SBY "Mati Sajalah Kau!"

Sudah beberapa hari terakhir ini setiap kali saya membaca koran harian, baik itu Jawa Pos, Pelita, dan KOMPAS, selalu saja disuguhkan sajian-sajian yang tak pernah terselesaikan di negeri ini. Mulai dari pelayanan publik yang curat marut, kasus korupsi, bencana alam yang disebabkan penambang liar, manuver pencitraan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

SBY sudah 2 periode menjadi presiden negeri ini. Tapi tak ada hasil yang memuaskan hati rakyat. Selain itu, masih saja berpoli tik ingin mengekalkan kekuasaan.

Kita tidak pernah tahu selama ini tentang kebobrokan SBY karena terselubung oleh politik pencitaraannya yang hebat. Semua rakyat Indonesia tertipu dan baru sekarang menyadari betapa SBY tidak pantas jadi pemimpin negeri ini. Bahkan tidak cuma masyarakat Indonesia saja yang sudah mulai bosan dengan tampang adem ayemnya SBY yang meyakinkan itu, alam Indonesia begitu tidak rela SBY menjadi pemimpin.

SBY tak lebih dari Orde Baru, cuma kemasannya lebih halus; memperkaya diri sendiri, keluarga, kerabat, mengekalkan kekuasaan; semua itu nepotisme. SBY adalah Orde Baru di era Reformasi. Kelicikannya (semua) tersimpan dibalik tampang adem ayemnya.

Rakyat kecil yang tidak bisa apa-apa mungkin hanya bilang dalam hati "SBY, Mati Sajalah Kau!". SBY adalah pemimpin paling pintar berspekulasi dan selalu mengundang iba kita. Tengok saja, setiap kali bencana melanda Indonesia, dipastikan SBY akan turun lapang (ke tempat kejadian bencana) secara langsung. Peluk sana peluk sini tidak lupa dengan cucuran air mata kebohongannya.

Kata-katanya begitu meyakinkan dan penuh semangat, tapi sayang semua itu hanya sesaat tanpa dilandasi tindakan yang nyata. Lihat aja, kalau di lokasi bencana dia berjanji akan membantu semua korban bencana. Tapi setelah samapai ke Istana lagi, semua itu (janji-janjinya) akan dilupakan begitu saja.

Akhrinya yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang kadung percaya dengan kata-kata lembut SBY yang sesekali diiringi sesegukan tangisnya. Rakyat kecil (baik korban bencana dan lainnya) hanya bisa menunggu tanpa adanya kepastian.

1 komentar: