Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Hal tersulit adalah melaksanakan apa yang ada di dalam kepala. Seperti menulis pada blog ini, padahal kalau dipikir secara sederhana hal ini sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan. Menulis pada blog mudah karena kita punya kebebasan yang sebebas-bebasnya, kita boleh nulis apa saja yang kita mau, mulai dari tulisan yang paling "putih" hingga tulisa yang "hitam". Menulis di blog itu tanpa hambatan dan tanpa perantara, tapi tetap saja saya malas untuk menulisnya. Sekalipun saya sudah punya target dan draf tulisa yang cukup lengkap untuk memulai tulisan, tatap saja sulit sekali untuk terlaksana.

Benar juga semboyan dari iklan sebuah produk teknologi bahwa inovasi itu tak sekedar itu. Artinya butuh pelaksanaan dan tidak nyata ide tersebut, agar benar-benar dirasakan oleh orang lain dan diri sendiri pada khususnya. Tapi itu sulit sekali dan benar-benar membutuhkan pejuangan ekstra hingga "berdarah-darah". Ini masih tahap pelaksanaan untuk memerangi kemalasana yang ada pada diri kita sendiri, belum lagi hambatan-hambatan lain yang bakala menghadang, karena (sepertinya) sudah ditakdirkan bahwa sesuatu yang bermanfaat itu harus lulus uji coba hambatan ditengah jalan.

Itu cakupannya lebih luas, ini menulis yang katanya sederhana tatap saja sulit dilakukan. Saya jadi teringat ketika dulu semasa duduk di bangku sekolah ketika membaca curhatan-curhatan para penulisa besar yang sudah menghasilkan banyak buku dan buku-buku best seller. Yang sering saya temui dari banyak penulis itu (dari hasil yang baca) bahwa kesulitan mereka adalah menemukan ide untuk ditulis. Lah... kalau saya malah kebalikan dari itu, saya kebanyakan ide yang ingin ditulisa tapi tak pernah terlaksana karena berbagai faktor dan faktor yang paling menonjol itu adalah rasa malas.

Saya selalu ingin menuliskan apa yang saya temui dan biasanya mencatat di HP agar ide yang ingin ditulis (secara lengkap) itu tidak cepet hilang. Catatan dalam bentuk draf hingga judul kadang sudah jadi, bahkan saya memotret objek agar bisa dijadikan pendukung tulisan saya tersebut, seperti tulisan saya sebelumnya. Tapi apalah daya, catatan tinggal catatan dan gambar tinggal gambar yang cuma menambah beban RAM Memory HP saya. Ada satu yang terlaksana, tapi banyak sekali yang tak terlaksana. Ketika saya pikir lagi ternyata saya hanya hidup dalam mimpi dan angan-angan, angan-angan ingin menulis yang tak pernah tersampaikan.

Sampai sekarang pun saya masih belum menemukan obat paling mujarab atau trik untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini. Meskipun ada (dari beberapa yang saya baca di internet dan buku) itu hanya berlaku beberapa beberapa hari saja pada diri saya, selebihnya akan kembali pada kemalasan-kemasalan menjanlani hari-hari tanpa identitas sebagai pekeja keras. Dan kemalasan-kemalasan itulahh yang membuat hidup enak sekali -> *pikiran pemalas tak punya masa depan.
Kenapa harus Korea? Itulah yang selalu terngiang di benak saya, dimana-mana muda mudi kita tak lepas dari lagu-lagu Korea. Coba anda berkunjung ke tempat-tempat nongkrong anak muda sekarang, maka lagu-lagu yang terdengar dari mulut mereka adalah nyanyian yang tidak dimengerti oleh orang yang mendengarkan dan bahkan yang menyanyikannya, itulah lagu Korea.

Atau mungkin mereka hanya merengerti kata "sarange" saja, itu pun karena mereka keseringan menonoton film-film korea. Ini memang ironi, tapi inilah realita pemuda kita sekrang, tanpa identitas dan tak pernah menemukan jati diri meski jenjang pendidikannya sudah di bangku kuliah. Masih mudah terkontaminasi dengan lingkangan dan mudah terpengaruh dengan hal-hl yang berbau hedonis.

Invasi boyband, girlband dan drama Korea yang mendayu-dayu itu ternyata berdampak besar terhadap karakter pemuda Indonesia, mereka semakin malu menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya dan semakin malu menunjukkan budaya Indonesia (yang katanya penuh seni dan kekayaan itu).

Tidak bisa dipungkiri, musik yang easy listening dengan pembawa lagu yang cantik dan tampan (dengan make up hingga mencapai kiloan) ternyata berpengaruh besar. Nyatanya pemuda kita menyakai lagu-lagu Korea karena mayoritas boyband Korea isinya anak muda dengan tampang diatas rata-rata, bahkan saking tampannya dan ditambah make up yang berelebihan (meski cowok) mereka sampai terlihat cantik. Betapa tidak, mereka yang cowok saja getol memakai lip gloss agar bibirnya selalu terlihat seksi. Isunya sekarang, ternyata di Korea lagi trend lip gloss khusus cowok dan itu sangat digemari.

Dan girlband Korea yang diisi sekumpulan cewek cantik ditambah pakaian yang super mini nyaris telanjang hingga paha mulusnya mengundang banyak nafsu birahi, dada yang separuhnya dibiarkan terbuka begitu, ketiak mulusnya yang tidak pernah tertutup juga menjadi pelengkap sekaligus perangkap buat cowok-cowok yang melihatnya. Dan itu terbukti kepada kakak angkatan saya di kampus yang hari-harinya tidak bisa lepas dari mendownload clip-clip Korea, dan ketika saya tanya kenapa dia suka banget download clip Korea, ternyata alasannya kerena dia suka sama kecantikan cewek Korea yang nyaris telanjang itu.

Alhasil, meski lagu-lagunya tidak begitu enak didengar telinga asalkan yang membawakan lagu itu seksi dan gaya pakaiannya banyak yang terbuka maka tetap saja didownload, selain itu, kalau mendownload pasti cari video yang HD, karena dia memang butuh detail, alias detail tubuh artis Korea kalau-kalau nanti video itu diperbesar tampilannya tidak blur sehingga tidak mengganggu pandangan mata.

Saya bukan anti Korea, karena saya sendiri kadang masih menyukai film dan lagu-lagu Korea. Menurut saya, ini adalah bentuk kegelisan penikmat musik Indonesia setelah bosan mendengarkan lagu-lagu ciptaan anak negeri yang selalu mengumbar kata-kata gombal dan tekesan "lebay bin alay". Musik dengan gender Melayu pun juga tak kunjung berbernah diri pasca invasi musik Korea ini.
Investigasi yang dilakukan oleh banyak peneliti, bahka peneliti dari luar Indonesia menyimpulkan bahwa situs-situs yang mengatasnamakan sebagai jihad juga memiliki peran tersendiri dalam berbagai kasus bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia.

Situs-situs tersebut banyak menebar propaganda kebencian dan anti keragaman agama. Selain itu juga ada segelintir situs yang memuat tutorial pembuatan bom, kisah-kisah heroik dan doktrin-doktrin kekerasan yang mengatasnamakan agama. Meski situs dan blog semacam itu diblokir satu tumbuh seribu, hendaknya pemerintah lebih giat lagi dalam memblokir/memberantasnya.

Dalam memerangi teroris ini pemerintah tidak cukup mengandalkan kekuatan polisi saja, tapi juga mengandalkan para ahli IT dalam memblokir situ-situ dengan content menyesatkan tersebut. Juga situs-situs luar yang seringkali dibaca para teroris, yang notabene lebih extreme dalam penyebaran ideologi teroris.
Sebenarnya bukan itu masalahnya Pak. Indonesia adalah negara yang sepakboolanya sedang berkembang, ini terbukti dengan diraihnya runner up dalam piala AFF kemaren.

Yang paling bermasalah adalah PSSI, apalagi PSSI diisi orang-orang yang selalu mengedepankan kepentingan pribadi ketimbang masa depan TIMNAS.

Negara ini terlalu banyak dihuni oleh orang-orang berkepentingan yang tak ada sangkut pautnya dengan kemajuan Indonesia. Ini sudah terbukti, Rlfred Riedl yang mampu membawa TIMNAS ke runner up di piala AFF malah dipecat dan digantikan dengan pelatih Wim Rijsbergen yang tidak jelas prestasinya itu.

Sekedar tambahan;
Saat Wim Rijsbergen baru-baru melatih TIMNAS Indonesia, publik sempat optimis kalau Wim Rijsbergen sehebat Alfred Riedl, apalagi saat Indonesia dapat mengalahkan Turkministan. Tapi ternyata keberhasilan itu bukanlah hasil sentuhan Wim Rijsbergen, melainkan sisa-sisa sentuhan pelatih sebelumnya, yaitu Alfred Riedl.

Yang paling menyakitkan bagi rakyat Indonesia saat Wim Rijsbergen diwawancarai media, Wim Rijsbergen tidak mengakui kegagalannya, dia malah menjelekkan TIMNAS, dia menyebuat bahwa timnas Indonesia tidak layak bermain di level dunia.

Itu semua membuktikan bawah Wim Rijsbergen tidak pandai mengatur strategi sepak bola sebagai pelatih dan juga tidak bisa bicara dengan baik.
Mahalnya pendidikan di perguruan tinggi kadang membuat banyak siswa kelas akhir mengambil jalan terakhir dengan target kampus-kampus yang kurang kompeten. Motivasi utamanya adalah “yang penting kuliah”. Meski tidak sesuai dengan bakatnya. Ini masih beruntung dari pada siswa yang tidak punya keinginan kuliah sama sekali.

Kasus seperti ini dari tahun ke tahun terus meningkat karena semakin melambungnya biaya pendidikan yang tidak bisa dijangkau kalang bawah. Jangankan untuk hal itu, untuk biaya tes saja seperti SNMPTN yang sebesar 150 ribu masih banyak yang kurang mampu.

Pemerintah sebagai faktor utama dalam kemajuan pendidikan di Indonesia hendaknya lebih jeli lagi melihat bakat-bakat anak bangsa ini. Pemerintah harus menampung para siswa berbakat ini di PTN tertentu yang bisa mengembangkan bakatnya demi kemajuan Indonesia kedepan. Semoga!
Apapun jika dikonsep (setidaknya dicatat di buku harian) kemudian dijadikan target, maka hasil dikemudian hari pasti tidak akan mengecewakan. Asalkan dijalankan sungguh-sungguh, kemudian dipertahankan dalam satu kometmen yang tak mudah goyah oleh bermacam godaan, niscaya itulah yang kelak menungguh kita di "pelabuhan" kesuksesan kita.

Memasang target memang semudah mengucapkan apa yang terlintas didalam pikiran kita, tapi untuk menjalankan satu target yang cukup ringan saja kadang harus rela mengorbankan banyak hal --ini dalam tinjau sesuatu yang sifatnya kurang penting dibandingkan target kita tersebut.

Tapi yang terpenting dari pencapaian target adalah istiqomah dalam menjalaninya, baik setelah mencapai target itu sendiri atau sebelum target tercapai, yakni tidak mudah menyerah sebelum target kita tercapai dengan baik. Tapi setelah tercapai hendaknya dijalani secara terus menerus tanpa melupakan perjuangan sebelum mencapai target tersebut.
Perbankan adalah bisnis kepercayaan untuk merebut hati nasabah. Namun, apa jadinya jika kepercayaan itu malah dinodai oleh pihak bank sendiri? Tentu saja akan menciptakan phobia bagi calon nasabah bank untuk menyimpang uangnya di bank-bank tertentu. Bahkan citra bank yang selama ini jauh dari kesan buruk penyalahgunaan jabatan pegawainya juga ikut tercemar.

Terjadinya penyalahgunaan wewenang pegawai (seperti menilap uang nasabah) ini salah satunya dikarenakan minimnya optimalisasi peningkatan mekanisme kontrol di perusahaan perbankan. Oleh karena itu, pihak bank perlu memberi pelatihan-pelatihan khusus kepada para pegawainya untuk meningkatkan kinerja dan perbaikan mental mereka.

Namun yang paling penting dari itu adalah pelatihan-pelatihan agama (memberi pendalaman agama kepada pegawai) akan lebih efektif, karena dengan agama yang taat pegawai bank akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya saat ada keinginan untuk menyalahgunakan wewenangnnya atau menilap uang nasabah. Dan hendaknya pihak bank tidak selalu mencari pegawai-pegawai yang cuma mengandalkan ke-seksi-annya saja, tanpa memprioritaskan ketaatan agamanya. Biar kasus Melinda Dee ini tidak terulang lagi.
Sejak bergulirnya kasus Gayus, semakin membuktikan ketidak becusan kinerja aparat di bnegeri ini. Gembar-gembor sebelumnya akan memberangus koruptor nyatanya tak pernah kesampaian. Apalagi dengan hukuman yang terbilang cukup ringan untuk terdakwa kasus korupsi. Koruptor sekelas Gayus hanya dihukum tujuh tahun. Setelah itu akan diremisi ini itu, jadinya masa hukuman akan menjadi lima tahun.

Indonesia menjadi ladang subur koruptor untuk menumpuk uang sebanyak-banyaknya. Selain aparat yang tidak tegas dan kerdil ketika dibentak, juga makin menyuburkan praktek korupsi karena hukuman yang cukup ringan bagi maling negara ini. Kita akan membuktikan setelah kasus Gayus yang tak selesai mungkin ini akan muncul kasus-kasus serupa dengan hukuman ringan.

Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi besar-besaran di negara ini tidak akan diusut tuntutas. Karena kalau diusut tuntas akan menyeret orang-orang istana yang sesungguhnya pelaku korupsi selama ini adalah mereka-mereka yang bertampang adem ayem dengan segala manuver pencintaraannya.
Ironi sekali negeri ini, menangkap jaringan teroris yang mempunyai jaringan internasional dengan mudahnya menumpas hingga ke akar-akarnya. Tapi menangkap Gayus seorang diri saja tidak bisa, padahal sudah jelas-jelas ada di depan mata dengan berbagai bukti-bukti sudah sangat jelas pula, sepak terjangnya dalam penggelapan pajak hingga keliahaiannya dalam menyuap orang-orang lapas tempatnya dipenjara.

Sekarang kita baru tahu bahwa kasus-kasus yang bersangkutan dengan pemerintahan di negeri ini sulit sekali mencapai titik final. Dalam ingatan ingatan kita masih sangat jelas, kasus Munir aktivis HAM yang meninggal dunia karena diracun, hingga sekrang penyelesaian kasusnya tidak diketahui rimbanya.

Sepertinya negara ini selama SBY memimpin tidak akan pernah bisa tegas. Pejabat dengan pikirin kritis dan berupaya tegas terhadap apa yang menjadi tugasnya akan diserang ramai-ramai oleh pejabata lainnya, seperti kasus (percobaan) disfungsi KPK kemarin. Begitu langka kebenaran ditegakkan di negeri tercinta ini.

Para pakar dengan segala teorinya untuk memperbaiki negeri sudah tidak berguna lagi, setiap teori-teori yang diutarakan layaknya ucapan-ucapan sampah yang tak layak dibawa ke istana dan gedung DPR. Dan orang-orang pencari kebenaran tak ada tempat di parlemen.

Para penghuni istana dan gedung DPR bukan lagi bekerja untuk rakyat, tapi bekerja untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Segala upaya dilakukan untuk mengekalkan kekuasaan. Dan mungkin kebanyakan masyarakat bawah masih belum sadar bahwa kepemimpinan sekrang sudah kembali lagi ke era orde baru, tapi dengan gaya baru.
Setelah kegagal TIMNAS Indonesia mengangkat trofi piala AFF 2010, kita kembali kepada rutinitas negara yang membosankan Century, Gayus, Susno dan semacamnya. Selama piala AFF 2010 bergulir masyarakat beduyun-duyun ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, secara langsung ataupun tidak langsung, menyaksikan lewat televisi.

Selama itu pula Indonesia seakan tak ada masalah, semua masyarakat amnesia dengan segala hiruk pikuk panggung politik yang bikin geram. Century, Gayus, Susno semua lenyap oleh gol-gol cantik Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk. Media pun seolah tak mau ketinggalan dengan meliput secara eksklusif. Ini semakin menambah amnesia masyarakat Indonesia.

Disisi lain, para politikus yang awalnya dikejar-kejar wartawan untuk dimintai keterangan menyangkut kasus-kasus akutnya berubah Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk yang selalu menjadi sorotan kamera para wartatan. Setidaknya orang-orang bermasalah selama rentan waktu 2010 bisa bernafas lega, karena selama piala AFF bergulir tak lagi main kucing-kucingan dengan wartawan.

Ariel pun selama piala AFF tidak perlu lagi mengunci pintu kamar penjaranya rapat-rapat, Ariel bebas, bebas dari jepretan kamera wartawan. Cut Tari? Selama sebulan tak perlu lagi menangis sesegukan dihadapan banyak wartawan. Tak terkeculai Luna Maya, begitu menikmati masa libur berjibaku dengan wartawan ini.

Luna Maya merdeka, sebagai ekspresi kemerdekaannya dia dengan bebasnya keluar–masuk SUGBK. Tak ada lagi pengawal dan bodyguard yang siap menyikut para wartawan, tak perlu lagi menghindar dari wartawatan. Malah bersama-sama ke SUGBK untuk euforia bersama mendukung tim merah putih sambil sesakali mendengungkan lagunya band Netal, garuda di dadaku.

Sekarang??? Piala AFF telah usai. Mulai Luna Maya hingga Gayus harus siap lagi menjadi “buronan” nomor wahid para wartawan. Pikiran masyarakat sudah mulai menerima kalau kekalahan TIMNAS Indonesia karena adzab Tuhan yang disebabkan kesombongan trio tebal muka: SBY, Nurdin Halid, dan Abu Rizal Bakrie.
Maaf kalo postingan sebelumnya pembahasannya agak melebar. Oke... Sekarang kita sambung lagi pembicaraan masalah Politisasi Aburizal Bakrie terhadap pemain TIMNAS kita, lebih tepatnya dunia persepak bolaan kita.

Setelah menekuk Filipina dalam semifinal Piala AFF 2010, seluruh pemain tim nasional (timnas) Indonesia dan pelatih Alfred Riedl diundang Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie ke rumah pribadinya untuk sarapan pagi, kemarin (20/12/10). Liputan 6 (21/12/10)

Mungkin kita terperangah dengan kebaikan Aburizal Bakrie (dan bilang Aburizal Bakrie baik banget) yang akan menyumbangkan 25 hektare tanahnya di Jonggol, Bogor, Jawa Barat, untuk Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia atau PSSI. Tapi perlu kita ingat pula ini cuma janji dia, dan belum tentu terlaksana juga. Kita lebih-lebih PSSI cuma bisa menunggu tanpa kepastian.

Saya sendiri tidak yakin dengan janji Aburizal Bakrie ini, mengingat kasus-kasus serius Aburizal Bakrie yang tak kunjung selesai hingga sekarang. Boro-boro dia memberi bantuan sebesar itu kalo tanpa maksud (menguntungkan) tertentu dibalik kemurahan hatinya.

Sebelumnya Nurudin begitu memuji-muji Aburizal Bakrie atas kemenangan-kenangan TIMNAS Indonesia di AFF 2010 ini. Dia begitu kagum dengan Aburizal Bakrie dan mengelu-elukan Aburizal Bakrie, dia mengatakan bahwa kesuksesan TIMNAS Indonesia kali ini berkat Aburizal Bakrie. Ironis kan... apa hubungannya kesuksesan TIMNAS Indonesia dengan Aburizal Bakrie? Ada apa denga Aburizal Bakrie dan Nurdin...???

Jamuan sarapan pagi sebagai penghormatan atas kemenangan tim Merah Putih merebut tiket final Piala AFF 2010 adalah hal lumrah. Namun, yang kini menjadi pertanyaan para pengamat dan pimpinan partai politik, mengapa harus di rumah pribadi Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie?, Liputan 6 (21/12/10).

Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat mensinyalir jamuan itu sarat kepentingan politis. Ini adalah simbol politik Aburizal Bakrie menyangkut politik pencitraanya sejak dini, karena pada tahun 2014 dia akan mencalonkan diri jadi presiden. Dia menunjukkan bahwa dirinya begitu perhatian terhadap prestasi-prestasi yang diukir anak negeri. Tapi pada kenyataannya...???

Terakhir, postingan ini bukan untuk menghujat Aburizal Bakrie. Saya cuma berharap kalau Aburizal Bakrie benar-benar ikhlas setulus hati dalam membantu perkembangan persepak-bolaan Indonesia kedepannya. Dan saya harap Aburizal Bakrie cepat tobat dari "gerilya pemiskinan rakyat Indonesia" karena sudah terlalu banyak rakyat kecil yang sengsara karena ulah koruptor di negeri ini.
Amien...!!!
Entahlah, saya yang sebelumnya begitu cuek dengan hingar-bingar lapangan hijau begitu berkeinginan untuk memposting unek-unek ini, setelah beberapa kali memabaca kebobrokan politikus kita yang tak pernah puas dengan kekayaannya.

Mungkin kita sudah bosan dengan janji-janji Nurdin yang tak pernah kesampaian, pun begitu dia masih saja menjanjikan setumpuk uang kepada pemain TIMNAS Indonesia jika memenangkan pertandingan dengan Malaysia tanggal 26/12/10 ini. Sebelumnya Nurdin juga menjanjikan beratus-ratu juta kepada pemain TIMNAS Indoensia jika lolos ke perempat final, tapi kenyataannya...??? mana... ??? Parahnya lagi, dia begitu PEDEnya jual tampang meski banyak orang membencinya.

Tapi postingan kali ini bukan menyangkut Nurdin bobrok itu. Kali ini saya hanya ingin menyampaikan unek-unek saya mengenai Politisasi Aburizal Bakrie terhadap pemain TIMNAS kita, lebih tepatnya dunia persepak bolaan kita. Karena memang TIMNAS kita untuk kali ini begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sungguh prestasi yang gemilang di penghujung tahun 2010 ini.

Mungkin tak banyak dari kita yang tahu tentang Aburizal Bakrie yang banyak terlibat dalam pemiskinan rakyat Indonesia, mulai dari kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, Century, hingga kasus pajak Gayus. Dia adalah biang kerok dari semua aksi-aksi korupsi triliunan rupiah di negeri ini.

Sekedar diketahui saja, ini tentang penghargaan Bakrie Award yang diberikan setiap tahunnya kepada pelaku kreatif tanah air seperti sastra, sains, ilmu pengetahun dan semacamnya. Penghargaan Bakrie Award menurut banyak kalangan adalah politik pencitraan untuk menutup-nutupi kebobrokannya menyangkut banyak kasus berat di negeri ini.

Ada yang menilai bahwa penghargaan Bakrie Award tersebut adalah penodaan terhadap karya intelektual mereka, dan banyak dari penerima Bakrie Award yang mengembalikan penghargaan itu setelah sadar akan politisasi Bakrie Award tersebut. Seperti yang dilakukan sastrawan kawakan Goenawam Muhammad, dia mengembalikan penghargaan Bakrie Award pertengahan tahun 2010 kemarin.

Sebelumnya Goenawan Muhammad meminta Aburizal Bakrie untuk tobat dan membersihkan diri menyangkut masalah-masalah serius yang melibatkan dirinya. Karena seakan permintaannya tidak didengarkan oleh Aburizal Bakrie, Goenawam Muhammad geram dan mengembalik Bakrie Award dengan penuh kecewa.

Alasannya karena Aburizal Bakrie semakin giat dalam gerilnya pemiskinan rakyat negeri ini dan menumpuk harta sebanyak banyaknya di kerajaan Aburizal Bakrie. Kasus Centry-lah yang membuat Goenawan Muhammad "gemes" sama Aburizal Bakrie.
Melalui Julian Assange dengan WeakiLeaks-nya kita tahu betapa bobroknnya Barat. Kita juga bisa tahu betapa angkuh dan kejam dunia ini. Negara yang secara kasat mata terlihat sempurna tapi melalui WeakiLeaks kita tahu pula betapa kotornya dunia politik dan berbagai intervensi bisa juga kita baca dalam suatu negara tersebut.

Seperti yang saya baca di Jawa Pos rubrik Jati Diri, bahwa dunia ini dibangun atas dasar kepentingan satu pihak. Tak ada lagi kata-kata "demi dunia", "demi kepentingan bersama", "demi memperbaiki masa depan bersama". Kata-kata itu tidak ada di dunia sekarang ini. Semua demi kepentingan sendiri (negara). Yang seperti itu juga kita ketahui dan semakin yakin setelah Julian Assange wa akhawatuha memberikan data secara gamblang dan sangat jelas melalui WikiLeaks-nya.

Negara-negara yang masuk dalam situs WikiLeaks (tentang kobobrokannya selama ini yang tidak diketahui dunia dan bahkan rakyatnya sendiri) seketika menjadi berang dan kebakaran jenggot. Tak terkecuali negara-negara yang menurut pandangan kita selama ini adalah negara paling bersih dari berbagai kepentingan.

Maka ditangpaklah Julian Assange pentolan WikiLeaks pada tanggal 7 Desember 2010 kemarin oleh pemerintah Inggris. Julian Assange menjadi buron nomor wahid oleh negara adidaya Amerika Serikat, Sekarang bukan lagi teroris (versi Amerika) Osama Bin Laden. Amerika seperti di telanjangi oleh Julian Assange karena dokumen rahasianya yang bersifat "sangat rahasia" dibeber di dunia maya.

Julian Assange membeberkan ribuan dokumen rahasia AS yang dihimpun dari seluruh Dubes AS di seluruh dunia. Termasuk perang Irak, Afganistan, dan pembunuhan sejumlah wartawan media kelas dunia dibeberkan di WikiLeaks. Inilah yang membuat Amerika benar-benar berang dengan tingkah Julian Assange. Amerika menggerakkan seluruh pasukannya untuk menangkap Julian Assange.

Bahkan, aliran dana dari masyarakat dunia untuk WikiLeaks dibekukan oleh Bank Dunia Master Card. Juga sumbangan dana via online juga dibekukan oleh PayPal, alat transaksi online terbesar dunia. Sekarang lagi beredar isu kalau situs jejaring sosial Twitter juga menyensor Julian Assange karena tidak pernah menjadi Trading Topic di Twitter, padahal Julian Assange menjadi buah bibir seluruh masyarakat dunia.

Selain itu situs WikiLeaks diserang oleh sekelompok Hacker yang menurut penulis hacker tersebut adalah sewaan Amerika Serikat yang khusus untuk menyerang situs WikiLeaks agar WikiLeaks overload sehingga tidak bisa dibuka. Sampai sekrang, memang WikiLeaks sulit sekali untuk dibuka.

Tapi orang-orang yang mendukung Julian Assange juga tidak tanggung-tanggung, dari seluruh dunia menyuarakan satu suara agar Julian Assange segera dibebeskan. Mulai dari masyarakat biasa hingga presiden mengecam penangkapan Julian Assange oleh Amerika Serikat. Amerika sungguh keterlaluan, begitulah yang disampaikan oleh Presiden Brazil, dan presiden-presiden lain diseluruh dunia juga mendukung Julian Assange, kecuali SBY yang sekarang lagi sibuk pencitraan.

Dikalangan dunia bawah tanah (hacker), Julian Assange mendapat dukungan penuh, bahkan 3.000 hacker dari seluruh dunia bersatu padu untuk mendukung/membantu Julian Assange dan WikiLeaks-nya. Para hacker tersebut melancarkan serangan balas dendam pada perusahaan-perusahaan yang mencekal aliran dana WikiLeaks, seperti Master Card dan PayPal. PayPal dan Master Card diberondong oleh hacker dan dikacukan sistem kerjanya.

Sekarang adalah girilan kita untuk mendukung Julian Assange yang telah membuka mata kita tentang kenyataan dunia saat ini. Setidaknya melalui blog sekalipun. Untuk satu suara sudah lebih dari cukup mendukung aktivitas positif WikiLeaks ini. Kita suarakan kebebesan berekspresi di dunia maya dan pembebasan Julian Assange dan WikiLeaks-nya agar dia bisa kembali beraktivitas dengan kegitan positifnya ini, membongkar rahasia-rahasia kebobrokan suatu negara.


Wikileaks yang aslinya ada di wikileaks.org dan bisa diakses juga di http://213.251.145.96/. Tapi sekarang dua-duanya tidak bisa diakses lagi. Terakhir penulis bisa mengakses halaman WikiLeaks di http://www.wikileaks.nl/
Ini yang disulit ditemukan dari sekian banyak bola manis di tanah air. Para bola mania cendrung fanatik pada pemain-pemain luar negeri, mereka lebih hafal semua pemian luar ketimbang sekuad Sang Garuda Merah Putih (Timnas Indonesia).

Saya pribadi termasuk orang yang tidak begitu acuh/mooh dengan kasuk-kusuk panasnya lapangan hijau. Lain lagi kalau yang main adalah Timnas Indonesia, ini bukan berarti karena Indonesia sekarang lagi pesta gol atas kemenangan dengan Malaysia (5-1) dan dengan Laos (6-0).

Jujur saya sangat bangga atas prestasi yang diraih Timnas Indonesia saat ini, ini pembuktian pada negara Asia Tenggara lainnya bahwa per-sepakbola-an Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sepakbola Indonesia telah bangkit, bangkit dari tidur panjangnya yang selama ini menjadi kucing-kucingan kesebelasan pemain sepakbola asia lainnya. Semoga semangat ini tetap terus ternanam hingga Indonesia masuk Piala Dunia layaknya teman Asia lainnya seperti Jepang, Korsel, dan Korut. Amien...
Sepertinya dunia perfilman kita sudah menemukan jati dirinya, yaitu negara paling getol memproduksi film horor-mesum. Berkali-kali sudah bintang porno kelas dunia menginjakkan kakinya di Indoneisa untuk syutin film horor-mesum.

Sekarang, akhirnya Miyabi bisa diterima masyarakat Indonesia dengan lapang dada, itu menurut Odi Mulya produser Maxima Picture. "Ternyata (Miyabi), setelah berada di Jakarta, sambutan masyarakat justru sangat baik. Ketika bereak syuting, banyak yang mengahampiri minta foto (bareng)" ungkap Odi Mulya (Jawa Pos, 25/11/10).

Mungkin Odi Mulya sudah mengerti dengan krakter rakyat Indonesia. Awalnya saja gembar-gembor menentang, tapi beberapa bulan setelah itu aman-aman saja. Contohnya adalah Miyabi ini sendiri. Ketika isu film pertamanya "Mengejar Miyabi" muncul kepermukaan dengan bintang utamanya adalah Miyabi sendiri, sontak seluruh masyrakat kita menentang kedatangnya.

Tapi sekarang? Selama 16 hari di Jakarta Miyabi enjoy-enjoy saja tanpa merasa risih dengan ancaman (orang-orang yang katanya pejuang moral) seperti yang dilontarkan saat isu Miyabi pertama kali mau datang ke Indonesia.
Kita tidak pernah menyadari bahwa secara tidak langsung organ tubuh kita mempunyai ketergantungan (berat) sama bantal. Terbiasa tidur dengan bantal empuk membuat kita tidak bisa tidur saat mau tidur tanpa bantal.

Saya jadi teringat ketika teman saya yang sudah lulus dari pondok kemudian berkunjung ke pondok saat mau tidur tanya bantal, dia tampak gelisah (susah tidur) saat tau kenyataan kalau saya tidak menyediakan bantal tidur untuk malam itu.

Barang kali dia sudah terbiasa tidur dengan bantal empuk di rumahnya. Maklum sudah lebih dari 2 tahun dia meninggalkan pondok, otomatis kebiasaan tidur enak tanpa bantal di Pondok sudah mulai hilang. Sewaktu di pondok, tidur berbantalkan telapak tangan saja sudah bisa mendengakur, tidur keenakan.

Maka orang yang paling beruntung adalah orang yang jiwa-jiwa pondoknya masih melekat dalam dirinya. Karena walaupun tidur tanpa bantal pun sudah bisa mendengakur (bahkan tanpa alas, alias tidur di lantai). Nah... disitulah kenapa orang-orang pesantren tidak cengeng dan selalu bersabar dalam setiap keadaan yang lumayan tidak enak.

Karena semasa di pondok sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana, mandiri, bahakan ada sebagian dari santri yang berpola hidup dibawah sederhana (untuk yang ini saya pasrahkan pembaca mau menafsirkan seperti apa saja).

Lalu kenapa saya bilang bahwa orang yang paling beruntung adalah mereka yang jiwa pesantrennya masih melekat? Jawabannya sederhana. Mereka tidur tanpa batal aja udah bisa bermimpi bidadari segala, apalagi kalo sampe pake bantal empuk sekaligus pake bantal guling...
Makin mantap..........!!!!!
Seberapa kali pun kita melakukan kesalahan toh pada akhirnya kita juga akan melakukan kesalahan serupa, meski kadang tanpa kesengajaan. Kesalahan adalah bentuk dari kesuksesan kita yang tidak dikerjakan secara profesional. Implikasinya adalah kegagalan.

Maka akan lebih bijak jikalau kita mempelajari kesalahan kita sendiri, dalam artian dijadikan tela’ah diri untuk tidak mengulanginya lagi. Minimalnya tidak separah kesalahan sebelumnya. Mempelajari disini guna menjadi pendorongan bahwa kesempatan masih ada di lain waktu.

Memperbaiki diri dari kesalahan sebelumnya akan terasa nikmat dibandingkan memperbaiki kualitas diri tanpa “dosa”. Karena bagaimanapun rasa puas manusia rata-rat lebih puas kalau dia sebelumnya pernah melakukan kesalahan kemudian bisa mengatasinya.

Maka janganlah pernah berkecil hati jika kita melakukan kesalahan pada suatu kesempatan, karena pada kesempatan lain di moment berbeda masih terbuka lebar untuk kita jadikan ajang memperbaiki kualitas diri. Bahwa diri kita bisa berubah lebih baik dari sebelumnya.
Sering kali kita melupakan ucapan al-Hamdulillah saat mendapat nikmat dari Tuhan. Nikmat seberupapun sepatutnya haruslah dibayar semurah kata al-Hamdulillah. Tapi ini sulit sekali untuk orang yang kadung buta dimabuk dengan kesombongannya. Karena menganggap semua sesuatu yang menjadi miliknya adalah hasil usahanya sendiri.

Mensyukuri nikmat Tuhan adalah sesuatu yang gampang, tidak memerlukan apa-apa, namun sulit untuk dilakukan. Seperti halnya ketika kita mendapat pinjaman uang, kadang kita tidak menganggap hal itu adalah rejeki kita.

Kita tidak pernah sadar bahwa Tuhan memberi rejeki makhluknya tidak selalu dengan cara mulus. Tidak terjangkau akal pikiran "rendah" manusia. Diluar dugaan dan tidak masuk akal, termasuk mendapat pinjaman uang dari teman.

Rejeki dalam bentuk apa pun adalah tanggung jawab kita untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Mendapatkan uang dari hasil kerja keras adalah upah yang diberikan Tuhan kepada kita setelah kita melakukan usaha-usaha untuk mendapatkan penghasilan.

Lalu bagaimana dengan pinjaman uang dari teman? Adalah sesungguhnya upah yang dibayar dimuka oleh Tuhan untuk kemudian kita melakukan pekerjaan dari upah tersebut, yaitu berusaha membayar hutang dengan cara usaha-usaha yang lainnya.

Banyak teman penulis mengatakan, kadang kala keinginan itu tidak sesuai dengan (harapan) kenyataan di masa yang akan datang. Kenyataan di masa mendatang adalah misteri dan sesungguhnya itu bagian kecil dari ke-Maha Rahasia-an Allah.

Anggapan kita akan ketidak adilan Tuhan, saat harus menerima kenyataan yang tak sebanding lurus dengan yang dicita-citakan sebelumnya, selalu menyelimuti hati kita. Dan kadangkala kita frusratasi atas semua do'a yang kita panjatkan di setiap tengah malam kita.

Tapi, bukankah keinginan yang kuat adalah doa paling mustajab kita dalam meraih sesuatu yang kadang tidak mungkin menjadi mungkin? Keinginan yang kuat adalah segala-segalanya dalam hidup kita. Kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa keinginan.

Maka untuk tetap melestarikan keinginan kuat kita itu, mulai sekarang mari kita belajar, koreksi diri, mungkin ada yang salah dalam usaha kita sehingga masa mendatang tidak sesuai dengan yang dicita-citakan.
Harapan kita memang tidak selamanya sesuai dengan kenyataan yang akan datang. Kadangkala kita menyumpahi masa mendatang adalah masa paling kejam, dimana waktu tidak pernah memberikan kesempatan pada kita dan tidak pernah memberi ampun atas segala perbuatan kita.

Perbuatan baik di masa sekarang kemudian dibalas oleh masa mendatang dengan kebaikan-kebaikan pula, itu adalah hal wajar. Kadang pula masa mendatang itu begitu pemurah terhadap kita. Kebaikan yang dikerjakan sekarang lalu dibalas berkali-kali lipat kebaikan oleh masa mendatang.

Namun apa bisa dikata, segala usaha dan kerja keras kita di masa sekarang kemudian tidak berbanding lurus dengan seluruh keringat dan pengorbanan kita di masa mendatang. Ketika waktunya sampai, dimana angan-angan kita selalu dimanjakan dengan hal-hal menggembirakan --karena semua usaha kita sudah dikerahkan-- untuk menyambut masa mendatang. Tapi kenyataannya... kita hanya bisa gigit jari. Pupuslah semua harapan kita.

Tapi setidaknya kita bisa belajar, betapa Tuhan Maha Adil. Betapa lemahnya kita yang tidak bisa menentukan masa depan kita sendiri, tanpa usaha-usaha yang real. Betapa Maha Kuasanya Tuhan, atas segala kehendak-Nya.

Tuhan tidak pernah tidur dan Maha Mendengar atas segala keluh kesah kita. Tuhan sudah tahu apa yang terbaik bagi kita di masa mendatang. Tuhan sudah mempersiapkan semuanya atas usaha kita sekarang. Maka bersabarlah untuk menunggu kejutan dari Tuhan itu...