
Sungguh mengecewakan sekali permainan TIMNAS kita saat melawan Qatar. Indonesia kalah 4-0 kosoang tanpa ampun. Berbagai upaya pemain untuk (minimal) menyamakan scor pun tidak membuahkan hasil. Bahkan sang penjaga gawang Hendro Kartiko sampai emosi dan akhirnya diganjar dengan kartu kuning oleh wasit.
Namun yang paling mengecewakan adalah sikap pelatih TIMNAS (Wim Rijsbergen) yang seakan tidak gairah memimpin TIMNAS saat melawan Qatar. Bisa kita bayangkan, sepanjang pertandingan Wim Rijsbergen hanya duduk manis memperhatikan penderitaan pemain TIMNAS yang berusaha mati-matian menyeimbangkan scor, dan akhirnya tidak membuahkan hasil sama sekali.
Publik sangat kecewa dengan sikap Wim Rijsbergen yang sok dingin ini, bahkan sampai penyiar sepak bolanya sendiri sangat menyayangkan hal itu, sikap diamnya tanpa memberikan arahan satu kali pun kepada pemain TIMNAS sepanjang permainan berlangsung hingga permainan berakhir dengan scor yang sangat mengecewakan, yaitu 4-0.
Siapa yang tidak kecewa dengan Wim Rijsbergen disaat-saat seperti ini. TIMNAS jauh-jauh pergi ke Qatar dengan harapan membawa kemenangan, tapi kenyataannya sangat berbeda jauh dengan prediksi sebelumnya. Ternyata Wim Rijsbergen hanya jago memarahi dan mencela (bahkan mencela negara ini) pemain TIMNAS kita tanpa bisa memberikan strategi bagus dalam menaklukkan lawan.
Indonesia benar-benar dalam masa krisis, krisis pemimpin yang benar-benar ingin memajukan negara Indonesia tanpa embel-embel kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Pemimpin PSSI pun harus dirombak, agar dalam memilih pelatih tidak berdasarkan dorongan kelompok yang tidak memikirkan persepakbolaan Indonesia, yang akhirnya berakibat fatal seperti sekarang ini, karena telah memilih pelatih seperti Wim Rijsbergen.