Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Eksplorasi bakat dengann mencoba segala macam yang kita sukai dan hal itu sesuai dengan apa yang ada dalam diri kita kadang membuat kita lupa daratan, dalam hal ini kita begitu menikmatinya dengan konsentrasi tinggi dan angan-angan yang melambung saat tenggelam begitu dalam. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa, entah itu hilangnya semangat yang menggebu-menggebu seperti sekrang, gesekan sosial kadang membenturkan keinginan kita dengan segala aspek yang bersifat dunia dan meterial.

Kita begitu bersemangat saat mempelajari suatu hal yang menjadi kesukaan kita, dalam kasus ini, orang celaka adalah orang yang begitu mudah tertarik dalam satu bidang tertentu dan ketika tertarik langsung memepelajarinya dengan semangat menggebu-menggebu. Tapi orang dengan tipe seperti ini juga cepet bosa pada suatu bidang yang sedang dipelajarinya ketika ada hal yang lebih menariknya, celakanya, orang itu akan meninggalkan sesuatu yang sedang dipelajarinya setengah perjalanan itu dan akan pindah ke bidang lain yang sedang menggodanya.

Labilisme dan keinginan yang kuat seringkali beriringan dengan orang seperti ini, mereka kadang bingun dengan tujuan hidupnya di masa depan. Karena sekarang sudah menetapkan A untuk masa depan, besoknya bisa jadi akan mentapkan B untuk masa depan, dan kemungkinan terbesar lusanya akan menetapkan C untuk masa depan. Hal ini terus berlanjut dan akan terus beputar tanpa poros, sesuatu yang telah dilaluinya akan terus diulang-ulang.

Tipe seperti ini biasanya tidak akan ahli pada bidang tertentu meski sebenarnya dirinya banyak mengerti segala hal (karena telah banyak belajar di tengah jalan tadi). Sulit menentukan apa yang akan benar-benar ditekuni akan sering dialami orang seperti ini karena tidak pernah bisa manahan godaan yang datang ketika sedang mempelajari suatu bidang. 

Mungkin kasus seperti diatas banyak dialami oleh anak-anak remaja hingga mahasiswa, tapi tidak menutup kemungkinan juga dialami orang-orang yang sudah dewasa sekalipun. Karena kebiasaan yang dibiasakan sejak dulu itu akan menjadi karakter hingga dewasa yang sulit diubah, dan ini sulit sekali disembuhkan. Ini mungkin bukan sejenis penyakit yang sulit disembuhkan, tapi alangkah baiknya jika anda antisipasi sejak dini demi tujuan dan cita-cita anda di masa depan.
Setelah kegagal TIMNAS Indonesia mengangkat trofi piala AFF 2010, kita kembali kepada rutinitas negara yang membosankan Century, Gayus, Susno dan semacamnya. Selama piala AFF 2010 bergulir masyarakat beduyun-duyun ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, secara langsung ataupun tidak langsung, menyaksikan lewat televisi.

Selama itu pula Indonesia seakan tak ada masalah, semua masyarakat amnesia dengan segala hiruk pikuk panggung politik yang bikin geram. Century, Gayus, Susno semua lenyap oleh gol-gol cantik Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk. Media pun seolah tak mau ketinggalan dengan meliput secara eksklusif. Ini semakin menambah amnesia masyarakat Indonesia.

Disisi lain, para politikus yang awalnya dikejar-kejar wartawan untuk dimintai keterangan menyangkut kasus-kasus akutnya berubah Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk yang selalu menjadi sorotan kamera para wartatan. Setidaknya orang-orang bermasalah selama rentan waktu 2010 bisa bernafas lega, karena selama piala AFF bergulir tak lagi main kucing-kucingan dengan wartawan.

Ariel pun selama piala AFF tidak perlu lagi mengunci pintu kamar penjaranya rapat-rapat, Ariel bebas, bebas dari jepretan kamera wartawan. Cut Tari? Selama sebulan tak perlu lagi menangis sesegukan dihadapan banyak wartawan. Tak terkeculai Luna Maya, begitu menikmati masa libur berjibaku dengan wartawan ini.

Luna Maya merdeka, sebagai ekspresi kemerdekaannya dia dengan bebasnya keluar–masuk SUGBK. Tak ada lagi pengawal dan bodyguard yang siap menyikut para wartawan, tak perlu lagi menghindar dari wartawatan. Malah bersama-sama ke SUGBK untuk euforia bersama mendukung tim merah putih sambil sesakali mendengungkan lagunya band Netal, garuda di dadaku.

Sekarang??? Piala AFF telah usai. Mulai Luna Maya hingga Gayus harus siap lagi menjadi “buronan” nomor wahid para wartawan. Pikiran masyarakat sudah mulai menerima kalau kekalahan TIMNAS Indonesia karena adzab Tuhan yang disebabkan kesombongan trio tebal muka: SBY, Nurdin Halid, dan Abu Rizal Bakrie.