Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Ariel bebas bersayarat pada tanggal 23 Juli bertepatan dengan bulan puasa, ratusan fansnya menyambut kebebasan sang idola bahkan sebagian fans itu rela menginap di lapas dimana Ariel di penjara. Ada lagi yang rela datang dari luar kota demi menyambut kedatangan Ariel. Ariel masih punya pamor bagi fansnya meski sebelumnya terlibat skandal produksi film porno dirinya dengan beberapa artis Indonesia.

Penyambutan rasan fans itu mungkin sah-sah saja, namun ironis sekali ketika saya menyaksikan tayangan Kompas TV, seorang jilbaber (muslimah) rela datang dari luar kota demi menyambut kedatangan Ariel. Cewek muslimah itu dengan bangganya menyebut dirinya datang dari luar kota hanya (khusus) untuk menyambut kebebasa sang idola, Ariel.

Yang jadi permasalahan ini bulan ramadhan dan fans itu adalah muslimah dengan jilbab sebagai simbol ketakwaan seorang muslim, tapi malah menyambut artis yang terlibat skandal video porno. Mungkin argumen saya ini tendensi, tapi tetap saja tidak dibenarkan secara agama kalau seorang muslimah menyambut kebebasan artis yang terlibat skandal video porno, apalagi di bulan Ramadhan, bulan sucinya orang Islam di seluruh dunia.

Saya tidak habis pikir, bagaimana cara muslimah itu beragama. Sudah umum diketahui kalau cewek pemakai jilbab di Indonesia adalah mereka yang sudah mengerti tentang ajaran agama Islam (termasuk larangannya dan bagaimana bersikap). Tapi penyambutan kebebasan idola ini malah sangat berseberangan dengan ajaran Islam.

Jilbab Sebagai Trend
Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata jilbab bukan lagi sebagai tanda ketaqwaan seorang wanita. Jilbab bukan lagi untuk menutupi aurat mereka. Jilbab bukan lagi untuk menghindari fitnah bagi wanita. Sekarang jilbab sudah menjadi trend. Dimana pemakainya tidak perlu lagi memikirkan "rambu-rambu" ajarang Islam.

Jilbab hanyalah penutup kepala biasa, tak lebih dari itu. Saya semakin yakin ketika menyaksikan liputan Kompas TV ini. Dan kalau pembaca sebelumnya sering mengikuti berita aktual yang melibatkan pejebat-pejabat kita (yang perempuan) yang tersandung masalah kenegaraan, maka anda akan keget dengan tersangka yang tiba-tiba mendadak menjadi seorang mulimah yang taqwa dengan jilbab menutupi kepala disaat persidangan.

Kembali ke wanita pemakai jilbab fans Ariel itu. Betapa bobroknya generasi Islam sekarang. Mereka bertingkah dengan membawa simbol agama tanpa memikirkan citra agamnya. Dan saya yakin, kenapa Kompas TV mewawancarai fans-nya Ariel yang memakai, karena juga ingin menampakkan bahwa inilah generasi Islam sekarang.

Juga sebagai tanda Islam tinggal simbolnya saja dan hakikat ajarannya sudah hangus dilindas medernisasi. Puasa yang hanya simbol diri bahwa dirinya adalah seorang Islam agar tetap berada di tatanan sosila orang lainnya, lebih dari itu tidak pernah menghayati hakikat dari bulan puasa, dan akibatnya kelakuannya jauh dari ajaran Islam, termasuk menyambut kebebasan Ariel.
Bisa dipastikan kebanyakan pengguna internet Indonesia masih buta bagaimana mengoptimalkan internet untuk meraih kesuksesan dalam hidup, meraih kekayaan, mengembakan ilmu pengetahuan yang ia punya lewat internet, dan segala hal-hal berkaitan dengan manfaat besar dari internet.

Lebih-lebih ketika invasi besar-besaran oleh facebook yang telah membutakan mata ramaja Indonesia, yang seakan internet hanya berguna untuk membuka facebook saja. Dalam hal ini saya bukan mau menyalahkan pihak facebook, ini adalah kosekuensi logis dari kenyataan hidup di era teknologi seperti sekarang.

Dan hal itu juga membuktika masih terbelakangnya Indonesia dibidang teknologi, baik pemanfaatan dan penggunaannya. Pola pikir orang Indonesia terhadap teknologi masih diliputi oleh hal-hal 'tidak penting' yang bersifat kesenangan (tanpa makna) semata, tanpa pernah berpikir bagaimana memanfaatkannya.

Orang Indonesia adalah oran kreatif yang kadang tidak menemukan penyaluran, entah karena berbagai faktor yang menjadi penghalang dalam penyaluran atau karena acuhnya pemerintah dalam mengurusi jutaan rakyatnya. Hal-hal semacam ini memang sulit dicarikan solusinya.

Namun demikian, harusnya ini menjadi cambuk bagi kita untuk selalu mencari alternatif dan berbagai cara menuju kesuksesan tanpa harus bergantung kepada pemerintah. Dan inilah saatnya. Bodoh atau terbelakang bukanlah alasan logis untuk kita bermalas-malasan dan membunuh kreatifitas diri. Sekarang adalah era cyber yang segala sesuatunya dapat dijalankan dan dicari dengan mudahnya di internet.

Maka selanjutnya adalah, bagaimana menjadikan internet itu sesuatu yang berarti, bagaimana menjadikan internet sebagai penyokong kreatifitas kita, bagaimana menjadikan internet sebagai modal utama pembuktian kita bahwa kita layak diperhitungkan di kancah 'percaturan cyber' nasional dan bahkan internasional.

Dalam dunia cyber kreatifitas merupakan modal utama dalam meraih kesuksesan. Sebab, di dunia cyber siapa pun bisa ikut andil dan bersaing dalam mengukir prestasi dan meraih kesuksesan. Karenanya, tanpa kreatifitas yang dinamis, dengan sendirinya mereka akan tersingkir. Itulah ‘hukum alam’ yang berlaku di dunia cyber.

Salah satu cara efektif untuk meraih kesuksesan di dunia cyber saat ini adalah melalui blog. Ratusan juta orang berselancar di jagat internet setiap harinya untuk mencari informasi hingga untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka blog menjadi media yang sangat efektif untuk menggapai mimpi akan sebuah kesuksesan.

Dan itu sudah banyak dibuktikan oleh anak negeri, mereka menghasilkan jutaan rupaih lewat internet, seperti membuat aplikasi di Android, Nokia, BlackBerry, Web desinger, Desain grafis, dan segala hal-hal yang berkaitan dengan kreatifitas. Mereka juga mampu go international berkat portfolio yang mereka posting di blog masing-masing dan kemudian orang-orang dari luar yang membutuhkan jasa kreatifitas mereka mengunjungi blognya.

Itu semua adalah prestasi, hanya saja blogger Indonesia selama seakan tidak diberi kesempatan untuk tampil. Negara kita hingga masyarakat kita seakan tak pernah perduli keberadaan blogger. Sementara media tanah air hanya sibuk memberitakan korupsi yang tak pernah usai.

Sedangkan berita-berita kesuksesan blogger tanah air seperti Enda Nasution, Trinity, Suaidin Usman, Isnaini dan pengembang aplikasi Android seperti Yuku Sugianto dan Deddy Avianto untuk OS BlackBerry tak pernah terjamah media kita. Prestasi itu lenyap begitu saja dan hanya orang-orang disekitar dan komunitas tertentu saja yang tau prestasi mereka.

Dan dikalangan remaja puteri Indonesia ada banyak fashion blogger yang berprestasi lewat blog hingga nasioanl dan bahkan internasional seperti Evita Nuh yang masih berumur 13 tahun. Ada lagi, Fitri Aulia dan Siti Juwariyah jilbaber yang juga eksis berkat blog pribadinya. Itu semua sudah cukup menjadi bukti bagi kita. Bukti bahwa internet mampu mengantarkan kita ke puncak kesuksesan.

Akhir kata, semoga dengan adanya lomba yang diadakan Komunitas Ngawur (Komunitas para blogger khusus Provinsi Jawa Timur), yaitu ngawur.org yang bekerja sama dengan Pusat Teknologi dan Blogger Nusantara ini bisa membangkitkan gairah blogger Indonesia yang mulai loyo untuk tetap berkreasi, dan bisa membuka mata masyarakat Indonesia betapa pentingnya pemanfaatan teknologi di era cyber ini.


Artikel Ini Diikut Sertakan Dalam Writing Contest “Pemanfaatan Teknologi Digital 
Untuk Indonesia” yang Diadakan Oleh Komunitas Ngawur
Kenapa harus Korea? Itulah yang selalu terngiang di benak saya, dimana-mana muda mudi kita tak lepas dari lagu-lagu Korea. Coba anda berkunjung ke tempat-tempat nongkrong anak muda sekarang, maka lagu-lagu yang terdengar dari mulut mereka adalah nyanyian yang tidak dimengerti oleh orang yang mendengarkan dan bahkan yang menyanyikannya, itulah lagu Korea.

Atau mungkin mereka hanya merengerti kata "sarange" saja, itu pun karena mereka keseringan menonoton film-film korea. Ini memang ironi, tapi inilah realita pemuda kita sekrang, tanpa identitas dan tak pernah menemukan jati diri meski jenjang pendidikannya sudah di bangku kuliah. Masih mudah terkontaminasi dengan lingkangan dan mudah terpengaruh dengan hal-hl yang berbau hedonis.

Invasi boyband, girlband dan drama Korea yang mendayu-dayu itu ternyata berdampak besar terhadap karakter pemuda Indonesia, mereka semakin malu menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya dan semakin malu menunjukkan budaya Indonesia (yang katanya penuh seni dan kekayaan itu).

Tidak bisa dipungkiri, musik yang easy listening dengan pembawa lagu yang cantik dan tampan (dengan make up hingga mencapai kiloan) ternyata berpengaruh besar. Nyatanya pemuda kita menyakai lagu-lagu Korea karena mayoritas boyband Korea isinya anak muda dengan tampang diatas rata-rata, bahkan saking tampannya dan ditambah make up yang berelebihan (meski cowok) mereka sampai terlihat cantik. Betapa tidak, mereka yang cowok saja getol memakai lip gloss agar bibirnya selalu terlihat seksi. Isunya sekarang, ternyata di Korea lagi trend lip gloss khusus cowok dan itu sangat digemari.

Dan girlband Korea yang diisi sekumpulan cewek cantik ditambah pakaian yang super mini nyaris telanjang hingga paha mulusnya mengundang banyak nafsu birahi, dada yang separuhnya dibiarkan terbuka begitu, ketiak mulusnya yang tidak pernah tertutup juga menjadi pelengkap sekaligus perangkap buat cowok-cowok yang melihatnya. Dan itu terbukti kepada kakak angkatan saya di kampus yang hari-harinya tidak bisa lepas dari mendownload clip-clip Korea, dan ketika saya tanya kenapa dia suka banget download clip Korea, ternyata alasannya kerena dia suka sama kecantikan cewek Korea yang nyaris telanjang itu.

Alhasil, meski lagu-lagunya tidak begitu enak didengar telinga asalkan yang membawakan lagu itu seksi dan gaya pakaiannya banyak yang terbuka maka tetap saja didownload, selain itu, kalau mendownload pasti cari video yang HD, karena dia memang butuh detail, alias detail tubuh artis Korea kalau-kalau nanti video itu diperbesar tampilannya tidak blur sehingga tidak mengganggu pandangan mata.

Saya bukan anti Korea, karena saya sendiri kadang masih menyukai film dan lagu-lagu Korea. Menurut saya, ini adalah bentuk kegelisan penikmat musik Indonesia setelah bosan mendengarkan lagu-lagu ciptaan anak negeri yang selalu mengumbar kata-kata gombal dan tekesan "lebay bin alay". Musik dengan gender Melayu pun juga tak kunjung berbernah diri pasca invasi musik Korea ini.
Kompleksitas permasalahan HIV/AIDS di Indonesia erat kaitannya dengan kemiskinan. Sejak tahun 1997 sejalan dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia, pengidap HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan yang hingga saat ini belum teratasi dengan baik.

Dewasa ini status Indonesia sudah berubah dari negara dengan kategori prevalensi HIV/AIDS rendah menjadi negara dengan kategori epidemi terkonsentrasi, seperti di Papua, Bali, DKI Jakarta, Provinsi Riau, Jawa Timur dan Jawa Barat. Data epidemiologis dari Biro Perencanaan Kementrian Sosial RI menunjukkan bahwa penularan HIV di Indonesia sejak tahun 1995 semakin memprihatinkan. Kenaikan jumlah kasus-kasus baru yang tertular HIV meningkat sangat tajam.

Sementara data dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan oleh M. Subuh, dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, 25 November 2011 lalu memperkirakan sebanyak lebih dari 200.000 penduduk Indonesia menderita penyakit HIV/AIDS, dengan total populasi 240 juta, Indonesia memiliki prevalensi HIV 0,24 persen dengan estimasi ODHA 186.000.

Data itu mungkin masih lebih besar dan bisa mencapai lebih dari 200.000. Parahnya, separuh dari penderita itu adalah anak-anak muda yang berusia diantara 15 – 24 tahun. Namun hanya satu dari lima yang berada dalam resiko tinggi mempunyai akses terhadap pencegahan serangan virus yang tidak ada obatnya itu. Perlakuan diskriminatif terhadap perempuan dan anak-anak muda yang menderita HIV/AIDS masih terdapat di mana-mana.

Data ini tentu menjadi tantangan serius dalam pemberantasan HIV/AIDS nasional, apalagi di tahun-tahun mendatang tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS semakin besar dan rumit sehingga diperlukan strategi baru untuk menghadapinya. Selain itu juga diperlukan paradigma baru dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi upaya yang komprehensif dan terintegrasi diselenggarakan dengan harmonis oleh pemerintah.

Dalam penanggulangan penyakit menular ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan akserelasi upaya perawatan dan pengobatan saja. Tapi yang lebih penting adalah pendampingan dan dukungan kepada penderita HIV/AIDS itu sendiri, karena bagi mereka yang baru saja teridentifikasi virus HIV/AIDS akan mengalami depresi berat, sehingga butuh orang yang dapat memotivasi.

Pendampingan pasien HIV/AIDS yang paling efektif adalah melibatkan para ODHA lama yang secara psikologis sudah cukup kuat, selain mereka sudah berpengalaman, para ODHA dalam aspek sosial-psikologis juga lebih tegar dalam menerima kenyataan sosial selama mengidap penyakit HIV/AIDS. Semangat hidup yang dimilik ODHA inilah yang perlu ditularkan kepada para pasien HIV/AIDS lainnya yang masih rapuh, khususnya mereka yang baru saja teridentifikasi virus HIV/AIDS.

Kasus-kasus yang sering terjadi dilapangan, para penderita HIV/AIDS acapkali menghadapi stigma dan diskriminasi saat mengakses jasa-jasa perawatan kesehatan. Oleh karena itu, Revitalisasi Pendampingan Terhadap Penderita HIV/AIDS dipandang sangat perlu agar hak-hak asasi mereka atas perawatan kesehatan dapat terpenuhi dan dilindungi.

Melibatkan Orang-orang dengan HIV/AIDS dalam penanggulangan epidemi, perlu untuk memberikan pandangan yang lebih manusiawi terhadap HIV/AIDS di masyarakat umum, selain juga sebagai advokasi efektif dalam mengatasi stigma dan diskriminasi. Kita tidak selamanya bisa mengandalkan tindak nyata pemerintah, kesadaran masyarakat dan kerjasama yang baik dalam memperlakukan penderitan HIV/AIDS secara manusia adalah langkah paling efektif dalam memerangi penyakit menular HIV/AIDS ini.

Kerjasama yang baik haruslah bukan hanya pekerjaan ODHA dalam melakukan pendampingan, tapi juga keterlibatan masyarakat (normal) lainnya dalam memberikan perawatan dan dukungan/pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS positif, mengurangi diskriminasi dan stigma negatif, meningkatkan keterlibatan orang dengan HIV/AIDS dalam penanggulangan epidemi merupakan prioritas pemerintah, donor dan LSM, serta kelompok-kelompok pendukung orang HIV/AIDS positif dan masyarakat bawah pada umumnya.

Jika hal ini berjalan dengan baik, maka dengan mudah kita menjalankan akselerasi pencegahan baik dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko tinggi maupun dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko rendah dan masyarakat umum.

Catatan Akhir
HIV/AIDS adalah permasalahan nyata, kita tidak bisa memungkirinya, yang perlu dilakukan adalah memperkecil penyebarannya. Setidaknya kita bisa memberikan pelayanan sosial bagi mereka yang tertular HIV/AIDS agar tetap dapat hidup produktif serta mengurangi beban sosial-psikologis yang dialaminya.

Orang yang positif HIV/AIDS cenderung tertutup dan takut untuk membuka jati dirinya termasuk kepada orang terdekat sekalipun. Jika si penderita HIV/AIDS mengatahui dirinya positif terjangkit HIV/AIDS, ada dua kemungkinan terbesar yang sering dilakukan oleh mereka, yaitu bunuh diri atau menularkan (bagi para PSK) kepada para pelanggannya sebanyak-banyaknya.

Maka disinilah letak urgensi komunikasi yang harmonis dengan penderita HIV/AIDS untuk bisa membangkitkan semangat hidup mereka. Tujuan pendampingan terhadap mereka yang positif mengidap HIV/AIDS ini lebih mengacu pada motivasi hidup agar mereka tetap bersemangat melanjutkan hidup. Selain itu pendampingan yang efektif akan mampu melakukan perubahan mental dan perilaku, baik di kalangan pekerja seks komersial (PSK) maupun pengguna narkoba.

Selain pendampingan secara sosial, pendampingan secara hukum oleh pemerintah juga sangat pentinga bagi ODHA, agar masyarakat tidak mengucilkan keberadaan ODHA, karena selama ini hanya sebatas himbauan saja kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan para ODHA. Mengingat kondisi tersebut, maka setiap kabupaten/kota harus mengeluarkan peraturan daerah yang tegas.


Daftar Bacaan



*) artikel ini diikut sertakan dalam "Lomba Blog Tentang Remaja dan HIV/AIDS"
Oleh Vivanews.com (GoVlog) dan Australian AID


Nama : Moh. Kholil Aziz SN
Domisili: Surabaya - Jawa Timur


Postingan di Twitter
Follow
Solo yang selama ini dikelan dengan kota damai harus menerima kenyataan pahit. Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah menjadi sasaran setelah kebaktian jam 11 (25/09/11). Setelah media online menurunkan berita, pemuka agama hingga aparat negara mengutuk perbuatan sadis tidak berperikemanusiaan tersebut.

Ketika Indonesia sekidit demi sedikit berusaha mengembalikan citra sebagai negara yang damai, dengan ini Indonesia harus menerima kenyataan pahit dan seakan upaya selama ini sia-sia dalam memperbaiki citra di mata dunia yang acap kali melabeli Indonesia sebagai negara "tidak aman".

Kenyataan ini adalah pil pahit yang harus kita telan. Indonesia masih belum aman, kendati petinggi-tinggi teroris di negeri tercinta ini sudah lama dilumpuhkan dengan usaha keras aparat kepolisian. Indonesia seakan tidak punya kemampuan dalam menumpas teroris hingga ke akarnya.

Indonesia menjadi negara yang perlu diwaspadai bagi wisatawan asing yang mau berlibur ke Indonesia. Negara loh jinawi dengan keindahan alamnya harus rusak lagi namanya di mata dunia.

Keamanan dan ketentraman antar ras dan agama sepertinya akan kembali menyulut (tapi semoga saja tidak). Berbagai prasangka antar pemeluk agama sudah mulai terdengar kasak-kusuknya. Dan inilaha yang tidak pernah di harapkan selama ini.

Keterberlakangan Ideologi

Bom diri dengan segala motifnya tetap saja dicap sebagai tindakan tanpa pikir panjang yang selalu dibayangi utopia surgawi dengan segala isi dan bidadari-bidadari yang akan menemaninya setelah mati.

Bom bunuh diri semakin membuktikan ketidak berhasilan pemerintah dalam program pemerataan pendidikan. Keterbelakangan dan sulitnya akases ilmu pengetahuan oleh sebagian banyak rakyat Indonesia menjadikan rakyatnya dengan metal murahan yang maunya ingin mengambil jalan pintas dalam segala urusannya.

Selebihnya dari doktrin tertentu. Bom bunuh diri adalah pelampiasan diri dari kefrustasian hidup yang tak pernah memberikan optimis dalam menjalani hari-hari penuh polemik para politikus kita. Mereka yang pernah memikirkan nasib rakyat dan membiarkan rakyat dalam kesengsaraan keputusasaan.

Bom bunuh diri menjadi jalan satu-satunya untuk keluar dengan tenang dari semrawut kehidupan. Melakukan bom bunuh diri adalah mental hasil cetakan aparat negara yang tak pernah memberi kesempatan hidup lebih layak kepada mereka. Mereka frustasi dengan politik pencitraan dan perseteruan dalam mempertahankan kekuasaan hingga lupa akan nasib rakyatnya.

Keterbelakangan ideologi yang pada akhirnya memunculkan sikap pemberontakan adalah hala lumrah ketika kita melihat kenyataan yang ada saat ini; persaingan hidup yang ketat ditengah krisis dan berbagai kebutuhan yang perlahan "membunuh" rakyat kecil.

Mental-mental yang memunculkan ideologi seperti ini sepertinya akan terus bertambah jika pemerintah kita tetap tidak mau mengubah sikapnya dalam memimpin negera ini. Pemerintah yang selalu mengandalkan kekuatan polisi akhirnya akan sia-sia saja dengan segala upaya dalam memberantas ideologi ini.

Lalu Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Masyarakat sudah tidak punya suara untuk memperingati pemerintah karena sudah habis teriak-teriak beberapa tahun terakhir ini tanpa mengasilkan apa-apa. Masyarakat sudah mulai acuh dengan segala tingkah pemerintah yang selalu menjadi headline news media.

Namun bagaimanapun kekerasan tetaplah musuh bersama. Berpegang teguh dalam satu suara harus menjadi modal utama kita dalam memerangi tindak kekerasan. Memulai dari keluarga adalah langkah kecil paling efektif dan berdampak besar dalam memerangi kekerasan.

Masyarakat boleh frustasi karena tingkah pemerintah yang tak pernah berpihak pada rakyat bawah. Tapi frustasi dalam memerangi kekerasan hukumnya haram. Dalam kondisi apapun kita, jika meyakini bahwa kekerasan berdampak buruk dan dapat menyebabkan ketidaktentraman antar sesama, maka dengan ini semangat memerangi kekerasan itu akan selalu berkobar.
Orientasi dan eksistensi falsafah kempimpinan di negeri ini sudah semakin jauh dari makna yang telah digariskan. Sosok pemimpin di negeri ini tak lagi mencerminkana sikap dan jiwa kepemimpinannya yang selalu mementingkan kepentingan pribadi dan kolompoko kecilnya. Sosok kepemimpinan negara Indonesia tidak pernah mengalami titik terang.

Dari tahun ke tahun, masyarakat selalu mendambakan pemimpin yang ideal di negeri tercinta ini. Bahkan sudah berkali-kali pesta demokrasi digelar di negeri tercinta, menghabiskan uang rakyat hingga mencapai triliunan rupiah. Tapi hasilnya tetap dan malah tambah parah dari pemimpin sebelumnya.

Rakyat tak kunjung menemukan sosok pemimpin yang dapat membawa pada ketenangan, ketentraman, kekeluargaan, kesejahteraan, kemakmuran, dan menjadi teladanan bagi rakyat. Yang ada hanya penggantian pemimpin yang diwarnai dengan saling tidak percaya satu sama lain, kekerasan, suap-menyuap, dan sikap ketidakdewasaan dalam berpolitik.

Era reformasi yang diarapkan mampu memperbaiki tatanan kenegaraan pasca runtuhnya tangan besi orde baru tak kunjung menemukan titik terang hingga sekarang. Reformasi besar-besaran itu tak lebih dari sekedar perayaan tak bermakan yang telah banyak merenggut banyak nyawa mahasiswa kita di seluruh Indonesia.

Setelah kran dekokrasi terbuka lebar para negarawan seperti lepas kendali dengan berbagai pola politiknya yang tak masuk akal dan menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi dan partainya dan mengesampingkan kepentingan rakyat yang telah menjadi tugasnya dalam sumpah terima jabatan. Karena rakyat adalah pemilik kedaulatan.

Beginilah Pemimpin Seharusnya
Menurut M. Salyahya soerang pemimpin (leader) adalah gambaran manusia yang senantiasa berada ditengah komunitas masyarakat, tiada henti-hentinya berfikir, berusaha memahami situasi dan kondisi serta berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat merupakan manisfestasi dari aspirasi – aspirasi individu yang kemudian menjadi cita-cita bersama.

Pemimpin juga tidak pernah mengenal kata-kata lelah, tetap optimis dan penuh semangat untuk berjuang dan terus berjuang demi terwujudnya cita-cita masyarakat. Oleh karena itu, bisa ditarik kesimpulan betapa berat beban dan tantangan seorang pemimpin. Bahwa modal seorang pemimpin bukan sekedar tumpukan harta untu kampanye lalu menebar janji-janji manis yang tidak mau dijalaninya setelah terpilih.

Pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban dari keganasan berpolitik negarawan kita. Karena rakyat Indonesia masih gampang tertipu dengan hal-hal yang bersifat iming-iming janji-janji palsu dan pemberian cendra mata yang bersifat sesaat. Inilah potret politik pemimpin kita selama ini.

Pemimpin bukan sekedar menduduki jabatan tertinggi disuatu organisasi, tapi bagaimana mampu memberikan —seperti yang disebutkan diatas tadi— ketenangan, ketentraman, kekeluargaan, kesejahteraan, kemakmuran, dan menjadi teladanan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Karena bagaimanapun masyarakat (sebagai orang yang dipimpin) mselalu menginginkan seorang pemimpin yang tangguh dan jujur, memiliki intelektualitas, dedikasi, keberanian, kearifan, dan adil dan bertanggung jawab untuk memberikan kesejahteraan terhadap masyarakat.

Untuk menjadi pemimpin modal pintar saja belum cukup apabila tidak dibarengi dengan kejujuran dan keadilan. Kemudian Keberanian untuk berlaku jujur dan adil serta mampu memperlakukan sama dalam pandangan hukum, sosial dan politik.

Photobucket

Sejatinya tidak semua mahasiswa mampu beropini di koran, hal ini karena keterbatasan SDM mahasiswa yang masih jauh dari budaya membaca. Sudah menjadi hukum alam bahwa untuk menghasilkan sebuah karya, baik dalam bentuk opini atau pun dalam bentuk karya lainnya selalu mengharuskan penulis gemar membaca dan peka terhadap keadaan sosial.

Apalagi opini koran yang memang menuntut penulisnya selalu up to date dalam berbagai informasi aktual. Sementara mahasiswa kita masih lebih banyak mengutamakan hal-hal tidak penting, seperti menghabiskan waktu di pinggir jalan untuk nongkrong dan semacamnya. Inilah yang menjadi celah, kenapa opini-opini di koran dari kalangan mahasiswa sangat minim sekali.

Menuangkan uneg-uneg dalam bentuk opini di kalangan mahasiswa semakin menemukan jalan terjal yang tak mudah bagi mahsiswa untuk meninggalkannya, yaitu virus jejaring sosial. Mahasiswa lebih memilih jejaring sosial untuk menumpahkan segala aspirasi ke jejaring sosial, karena memang tidak membutuhkan gaya penulisan yang ilmiyah dan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiyah.

Jejaring sosial yang siapa saja boleh mengeluarkan apa yang ada di benaknya, juga membolehkan berkata apa saja, kendati tidak sopan sekalipun. Menurut penulis sendiri, jejaring sosial perannya sangat penting dalam membunuh krakter ilmiyah seorang mahasiswa, yang selama ini dikenal kritis.

Namun ada satu hal lagi yang membuat mahasiswa tidak bisa beropini di koran, yaitu koran harian itu sendiri. Koran yang selalu money oriented terhadap opini yang dimuatnya, membuat mahasiswa tidak bisa berbuat apa-apa. Ada sebagian teman-teman penulis yang mengatakan kalau koran itu lebih mengutamakan (memuat) opini-opini orang “penting” ketimbang opininya mahasiswa. Meski pun pada kenyataannya banyak ditemuai opini-opini mahasiswa lebih kritis.

Bisa kita lihat, setiap hari opini yang menghiasi koran harian kita, mulai dari koran lokal hingga koran nasional, jarang sekali ditemui opini mahasiswa yang mampu menembus redaktur opini koran. Kendati ada opini mahasiswa, itu pun hanya dikhususkan untuk mahasiswa, yakni “rubrik untuk mahasiswa”.

Kenyataannya memang tendensi sekali dari pihak koran harian, tapi begitulah, negara kita masih selalu mengutamakan hal-hal yang menurut pasar dianggapnya penting, tapi kosong manfaat dengan apa yang dibacanya. Ini ironi negara kita dalam membentuk kekritisan generasinya.

Terlepas dari semua itu, ternyata masih ada mahasiswa yang memaksakan diri untuk bisa menembus “benteng pertahanan” redaktur opini sebuah koran, dengan cara menyembunyikan identitasnya sebagai mahasiswa. Dengan cara berpura-pura menjadi pengurus penting sebuah LSM yang memang ada kaitannya dengan tulisan yang sedang diusungnya.

Tidak sedikit dari mahasiswa kita yang kritis namun tidak mampu beropini di koran, hanya saja tidak pernah diberi kesempatan oleh media harian yang merupakan peran utama dalam menyampaikan opini mahasiswa. Maka bukanlah sesuatu yang salah jika mahasiswa lebih memilih jejaring sosial sebagai media penyaluran aspirasinya yang terpendam —yang berakhir pada pembunuhan krakter kritis mahasiswa itu sendiri. Dan sifat-sifat ilmiyah mahasiswa juga ikut terpendam dan menghilang tanpa bekas, karena seperti yang dikatakan diatas, update status di jejaring sosial memang tidak membutuhkan atribut-atribut yang mengatur dunia kepenulisannya.

Akhir kata, mahasiswa dan semua peserta dalam kompetisi ini, penulis yakin semuanya juga ingin sekali bisa menyuarakan aspirasi dan isi hatinya (dalam bentuk opini) di koran harian, yang masih cukup efektif untuk saat ini. Dan harapan penulis kedepannya, media harian tidak lagi mengeksploitasi opini yang bersumber dari mahasiswa.

Penulis juga memaklumi atas segala kemungkinan kecurang mahasiswa dalam membuat opini dengan cara copas dan mengatasnamakan dirinya. Tapi bukankah itu adalah tugas redaktur opini sebuah koran harian untuk lebih jeli lagi dalam memilih opini-opini yang masuk ke redaksinya. Bukan tidak mungkin penulis-penulis yang sudah punya nama itu juga copas sana copas sini karena tuntutan redaksi media yang antri meminta tulisannya untuk dimuat di medianya.

Intinya, Indonesia masih punya banyak stok mahasiswa kritis dengan segala teori-teorinya yang mungkin bisa membantu negara melalui analisis mendalam lewat opini yang ditulisnya. Selain itu yang harus diperhatikan oleh media yaitu pembagian honor dengan cara mencairkan tepat waktu. Karena sebagian kecil motivasi dari mahasiswa untuk selalu mengasah kekritisannya beropini di koran adalah honor tersebut.

Perbankan adalah bisnis kepercayaan untuk merebut hati nasabah. Namun, apa jadinya jika kepercayaan itu malah dinodai oleh pihak bank sendiri? Tentu saja akan menciptakan phobia bagi calon nasabah bank untuk menyimpang uangnya di bank-bank tertentu. Bahkan citra bank yang selama ini jauh dari kesan buruk penyalahgunaan jabatan pegawainya juga ikut tercemar.

Terjadinya penyalahgunaan wewenang pegawai (seperti menilap uang nasabah) ini salah satunya dikarenakan minimnya optimalisasi peningkatan mekanisme kontrol di perusahaan perbankan. Oleh karena itu, pihak bank perlu memberi pelatihan-pelatihan khusus kepada para pegawainya untuk meningkatkan kinerja dan perbaikan mental mereka.

Namun yang paling penting dari itu adalah pelatihan-pelatihan agama (memberi pendalaman agama kepada pegawai) akan lebih efektif, karena dengan agama yang taat pegawai bank akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya saat ada keinginan untuk menyalahgunakan wewenangnnya atau menilap uang nasabah. Dan hendaknya pihak bank tidak selalu mencari pegawai-pegawai yang cuma mengandalkan ke-seksi-annya saja, tanpa memprioritaskan ketaatan agamanya. Biar kasus Melinda Dee ini tidak terulang lagi.
Judul : 20 Mantra Cepat Kaya
Penulis : Joni Lis Efendi
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2010
Gendre : Motivasi Bisnis
Halaman : xviii + 126
ISBN : 978-602-8597-57-9

Sekilas tampak judul buku ini seperti buku-buku bisnis lainnya yang menjanjikan kekayaan secara instan. Tapi tidak. Buku ini sesekali diisi jeritan hati sang penulis ketika membangun bisnisnya dari nol. Bahwa seperti apapun pencapai suatu usaha tetap dimulai dari perjuangan yang “berdarah-darah”. Butuh ketekunan, keberanian, percaya diri, dan pasrah.

Dalam dunia bisnis, kematangan diri dan fokus pada satu titik pencapain adalah kunci utama. Dan itu semua dibangun dengan jalan penuh terjal tanpa kenal lelah, seperti kisah sukses Soetjipto Sosrodjojo, yang terangkum dalam buku ini, dia berkeliling dengan mobil, memutar musik untuk menarik perhatian penonton dan memdemokan cara menyeduh teh Cap Botol yang akan dibagikan gratis pada penonton.

Semasanya dulu banyak orang tidak percaya dengan ide langka Soetjipto Sosrodjojo ini, bahwa kelak (sekarang) akan tercipta perusahaan berkelas bernama Teh Botol Sosro. Teh Botol Sosro yang dulu diperjuangkan tanpa kenal lelah dan selalu berusaha membuat inovasi baru telah menjelma Teh Botol Sosro seperti sekarang. Teh Botol Sosro berhasil mengungguli popularitas Coca-Cola dan Pepsi.

Oleh karena itu, esensi dari sikap kewirausahaan (entrepreneurship) itu adalah kemandirian dan pada sikap mandiri itu ada aspek keberanian, percaya diri, tidak gampang menyerah, dan kreativitas yang sudah membuktikan menjadi kunci para entrepreneur yang sukses.

Secara universal bahwa sikap entrepreneur handal dan sukses terletak pada kemandirian. Sikap mandiri bisa dimiliki oleh siapapun kendati kalangan bawah asal ada keinginan yang kuat. Sebaliknya, betapapun tinggi dan hebat latar belakang pendidikan dan lingkungan yang membesarkannya, maka sikap mandiri itu tidak akan diperoleh dan tak akan pernah menjadi entrepreneur sejati.

Artinya, orang yang tidak mandiri tidak akan pernah menjadi entrepreneur yang handal dan sukses. Sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan orang-orang sukses adalah mereka yang bersal dari keluarga kurang mampu. Kenapa? Karena mereka selalu berusaha untuk mandiri, tidak tergantung sama orang tua.

Mungkin tidak terlalu berlebihan jika penulis mengapresiasi buku ini dan layak jadi pegangan para entrepreneur pemula maupun menengah. Buku ini akan membuka pikiran pembacanya untuk memahami definisi kaya yang sesungguhnya, membuka mata pembacanya untuk melihat peluang-peluang usaha, dan meletupkan motivasi luar biasa.

Selain itu dalam buku ini juga banyak kata-kata mutiara penggugah jiwa untuk tetap terus berjuang memperbaiki nasib, seperti; “Orang yang berhasil dan sukses dalam hidupnya selalu memberikan nilai tambah untuk keluarga, orang lain, masyarakat, lingkungan, bangsa, dan negara”

Kalau mau melihat latar belakang penulisnya, buku 20 Mantra Cepat Kaya ini pun cukup meyakinkan, penulisnya Joni Lis Efendi adalah mantan orang miskin yang sekrang berhasil mendirikan Brain Writing School (BWS) dan Sekolah Pengusaha Indonesia (SPI).

Joni Lis Efendi sendiri sejak remaja sudah mandiri, karena lingkungan yang menuntutnya untuk hidup mandiri. Dia lahir dari lingkungan keluarga yang sederhana, bisa kuliah pun karena bantuan beasiswa. Namun, apalah daya, beasiswa itu putus di tengah jalan, kuliah terbengkalai, dan dia harus berjuang agar bisa bertahan hidup di Kota Pekanbaru.

Yang membuat dia tidak pernah melupakan masa lalunya adalah masalah urusan perut, soal makan kadang dia harus rajin-rajin puasa di luar puasa Senin-Kamis karena memang tidak ada uang sepeser pun walau hanya untuk sekedar membeli sebungkus roti seharga seribuan.

Ternyata, pangalaman-pengalaman pahit di masa lalu itu menjadi cambuk bagi diri Joni Lis Efendi untuk mengubah nasibnya. Dan itu terbukti pada diri Joni Lis Efendi sekarang. Joni Lis Efendi pun semakin yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum jika dia (sendiri) tidak mau pada prubahan itu.

Kehidupan dinamis dan berpandangan luas dimasa yang akan datang menjadi kunci kesuksesan Joni Lis Efendi. Ini membuktikan (sekali lagi) bahwa kendala utama dalam usaha kita selama ini bukan terletak pada finansial semata, tapi terletak pada motivasi diri bagaimana agar tidak pantang menyerah pada keadaan-keadaan tersulit sekalipun.

Kesuksesan penulis kemudian dituangkan dalam buku ini, penulis banyak mengaca pada perjuangan entrepreneur-entrepreneur sejati sebelumnya, selain ada Soetjipto Sosrodjojo dengan Teh Botol Sosro-nya. Dalam buku banyak menceritakan kisah-kisah entrepreneur sejati sebagai cerminan, seperti Tirto Utomo, dll.

20 Mantra Cepat Kaya banyak mengusung kisah-kisah nyata para pengusaha sukses Indonesia. Dimulai dari cerita Tirto Utomo yang selalu berusaha keras menjual air putih dalam kemasan. Meski pada awalnya dicibir oleh masyarakat, sekarang produk Aqua menjadi produk air kemasan yang paling dipercaya konsumen.

Sukses dalam hal apapun termasuk dalam hal finansial memang tidak pernah diraih dengan instan. DUIT: Doa, Usaha, Istiqomah, Tawakal, itulah rumus paling jitu bagi orang yang mau atau yang sudah sukses menggeluti bidang usaha. Motivasi diri yang terus berkesinambungan juga dihasilkan dari rumus tadi.

Benar sekali apa yang dikatakan front leader FPI Habib Riziq, “usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu omong kosong”. Bahwa petuah sukses yang selama ini kita dengar semua mengacu pada kerja keras dan pantangn menyerah. Jika semua itu bisa terbangun, maka yakinlah dikemudian hari akan memetik manfaatnya.


Dimuat di koran harian Bhirawa (28/01/11)
Setelah kegagal TIMNAS Indonesia mengangkat trofi piala AFF 2010, kita kembali kepada rutinitas negara yang membosankan Century, Gayus, Susno dan semacamnya. Selama piala AFF 2010 bergulir masyarakat beduyun-duyun ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, secara langsung ataupun tidak langsung, menyaksikan lewat televisi.

Selama itu pula Indonesia seakan tak ada masalah, semua masyarakat amnesia dengan segala hiruk pikuk panggung politik yang bikin geram. Century, Gayus, Susno semua lenyap oleh gol-gol cantik Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk. Media pun seolah tak mau ketinggalan dengan meliput secara eksklusif. Ini semakin menambah amnesia masyarakat Indonesia.

Disisi lain, para politikus yang awalnya dikejar-kejar wartawan untuk dimintai keterangan menyangkut kasus-kasus akutnya berubah Irfan Bachdim, Firman Utina, dkk yang selalu menjadi sorotan kamera para wartatan. Setidaknya orang-orang bermasalah selama rentan waktu 2010 bisa bernafas lega, karena selama piala AFF bergulir tak lagi main kucing-kucingan dengan wartawan.

Ariel pun selama piala AFF tidak perlu lagi mengunci pintu kamar penjaranya rapat-rapat, Ariel bebas, bebas dari jepretan kamera wartawan. Cut Tari? Selama sebulan tak perlu lagi menangis sesegukan dihadapan banyak wartawan. Tak terkeculai Luna Maya, begitu menikmati masa libur berjibaku dengan wartawan ini.

Luna Maya merdeka, sebagai ekspresi kemerdekaannya dia dengan bebasnya keluar–masuk SUGBK. Tak ada lagi pengawal dan bodyguard yang siap menyikut para wartawan, tak perlu lagi menghindar dari wartawatan. Malah bersama-sama ke SUGBK untuk euforia bersama mendukung tim merah putih sambil sesakali mendengungkan lagunya band Netal, garuda di dadaku.

Sekarang??? Piala AFF telah usai. Mulai Luna Maya hingga Gayus harus siap lagi menjadi “buronan” nomor wahid para wartawan. Pikiran masyarakat sudah mulai menerima kalau kekalahan TIMNAS Indonesia karena adzab Tuhan yang disebabkan kesombongan trio tebal muka: SBY, Nurdin Halid, dan Abu Rizal Bakrie.
Menjadi pelanggang operator yang memberikan layanan super murah dan selalu memberikan gratis macam-macam, ternyata tak selalu membuat kita (pelanggan) untung, malah buntung. Pelanggan menjadi ladang bebas berpromosi operator dan pihak lain yang bekerja sama, tak kenal waktu, siang-malam.

Akhir-akhir ini, seiring semakin ketatnya persaingan tarif murah, SMS yang menurut penulis adalah spam dari operator samakin merajalela. Karena isinya adalah tawaran-tawaran hadiah emas dengan cara membeli kontennya terlebih dahulu, kuis hadiah BlackBerry, hadiah iPAD, hadiah ratusan juta, hingga promosi tarif murah.

Masalahnya pun semakin rumit, karena pelanggan tidak mempunyai pilihan untuk menghentikan SMS-SMS itu, karena memang tidak ada caranya. Maka dengan terpaksa harus menerima iklan penawaran suatu produk, layanan RBT, layanan perpanjangan masa aktif, dll.

SMS iklan operator tidak saja menawarkan promo-promo dengan embel-embel hadiah yang menggiurkan, selain itu mengajak pelanggan untuk pindah paket yang semula paketnya terbilang cukup murah (agar pelanggan pindah ke paket lain), maka dibuatlah SMS iklan dengan konsep ramah yang bisa mengelabui pelanggan dengan sekali baca.

Karena isi SMS dari operator tersebut menawarkan tarif yang lebih murah dari paket yang dipakainya sekarang, tanpa pikir panjang pelanggan langsung membalas SMS tersebut yang secara otomatis ganti paket. Setelah membalas SMS iklan, maka selanjutnya pihak operator memberi tahu pelanggan (melalui SMS) bahwa paketnya telah diganti dengan persetujuan kedua belah pihak, sekaligus penjelasan paket baru yang telah dipilih pelanggan.

Ini memang ironis, pelanggan banyak menjadi korban dan dirugikan setelah membalas SMS dari operator. Karena trauma SMS iklan operator inilah, banyak pelanggan tidak percaya (bahkan menghujat) dengan SMS iklan yang dikirimkan operator karena itu adalah spam. Bahkan cek pulsa saja masih diselipi iklan.

Setelah bebagai artikel saya baca dari internet, Kenapa Operator melakukan hal ini? Ternyata ini adalah salah satu imbas dari “perang” tarif murah yang diberikan oleh operator kepada pelanggannya, dimana ternyata operator masih rugi karena memberikan tarif super murah itu.

Perang tarif murah adalah salah satu penyebab mereka melakukan penawaran tarif super murah, karena persaingan antar operator yang semakin keras, sehingga mau tidak mau operator terkait harus dan wajib mengikuti operator yang lain.

Sementara, prediksi “perang” antar operator di tahun-tahun yang akan datang bukan lagi perang tarif murah yang memberikan banyak gratis kepada palanggannya, tapi disisi lain operator melakukan penipuan kepada pelanggannya. Perang selanjutnya adalah perang pelayanan. Dimana pihak operator dituntut memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan dan jujur dalam menaikkan dan menurunkan tarif.

Untuk masa-masa sekarang boleh dikatakan perang tarif murah ini cukup berhasil karena bisa membuat pelanggan operator lain goyah dan berpindah operator, yang memberikan banyak bonus dan gratis macam-macam. Tapi untuk masa-masa mendatang hal itu tidak bisa menolong.

Tarif murah dengan segala penipuannya sudah terlalu banyak celah dan di cap buruk oleh masyarakat. Mungkin pertanyaan sederhana akan muncul, trus kenapa masih memakai layanan operator itu? Ini masalah keterpaksaan, dimana semua operator yang ada sekarang sistem tarif murahnya juga sama, dan bahkan lebih menipu dan banyak merugikan dikemudian hari.

Masyarakat sudah mulai gelisah dengan tarif murah ini, kini masyarakat mulai mencari-cari operator yang jujur dan transparan. Masyarakat lebih menginginkan operator yang sepenuh hati memberi pelayanan tanpa gangguan, baik dalam komunikasi suara dan komunikasi teks.

Pelanggan sudah eneg (bosan) dengan promosi-promosi mengganggu stabilitas komunikasi mereka, bisa kita banyangkan, ketika memanggil suatu nomor yang ada RBTnya masih saja diselipi iklan. Ini bisa dikatakan pemakasaan, namun secara halus.

Pelanggan berlangganan jasa komunikasi seluler, tujuan utama untuk memanfaatkan jasa komunikasi yang disediakan, baik itu, voice, teks, ataupun data, bukan untuk dijejali informasi atau promosi dalam bentuk apapun dari operator. Belum tentu informasi dan promosi tersebut pas dan sesuai dengan pelanggan yang dengan karakter dan kebutuhan berbeda-beda.

Juga, maraknya SMS promo dari pihak lain (sampai pihak yang tidak jelas asal muasalnya) yang bekerja sama dengan operator, banyak memanfaatkan permainan kata yang sepertinya ‘sengaja’ membuat pelanggan bingung dan pada akhirnya tanpa sadar kehilangan pulsanya atau malah lebih parah lagi kehilangan uang di rekening tabungannya hanya karena SMS yang tidak jelas asal muasalnya tadi.

Catatan Akhir
Sebuah SMS tetap dikategorikan spam jika si penerima pesan singkat tersebut merasa dirugikan dengan keberadaan SMS tersebut. Mungkin pelanggan tidak akan mempermasalahkan jika SMS itu diterima sekali atau dua kali saja. Namun jika frekuensi penerimaannya cukup sering dan pelanggan merasa dirugikan, mereka bisa melakukan gugatan perwakilan kelompok yang disebut dengan class action.

Karena kenyamanan pelanggan dalam menggunakan layanan operator juga dilindungi undang-undang dasar yang mengacu pada Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, bahwa konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

Maka alangkah bijak sekali jika operator ingin mengirimkan SMS iklan ke pelanggan, terlebih dahulu ada perjanjian antara operator dan pihak penyedia konten (jika melibatkan pihak lain) seperti misalnya SMS iklan tersebut hanya akan dikirimkan ke pelanggan yang sudah melakukan konfirmasi saja.

Operator harus melindungi pelanggannya, dari segala macam bentuk penipuan yang mungkin terjadi, dengan menyaring informasi dan promo apa saja yang akan dikirimkan kepada para pelanggannya, dan memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memilih informasi atau promo apa yang ingin diterima. Jangan malah membombardir dengan SMS iklan sampah yang memenuhi inbox.

Penulis tidak tahu apakah operator sudah memikirkan atau memperhitungkan bahwa promo mereka sudah memberikan peluang untuk spammer melakukan SMS spam. Tapi semoga saja hal ini cepat terpikirkan oleh semua operator seluruh Indonesia. Kalau masih belum terpikirkan juga, ya... minimal mulai sekarang seharusnya operator sudah sadar akan hal itu.

Harapan penulis, semoga saja operator bisa cepat sadar akan hal ini dan bisa memikirkan langkah-langkah strategis selanjutnya untuk perkembangan perusahaan dan kenyamaan pelanggan. Jika sadar saat ini, apa yang dapat mereka lakukan untuk meminimalkan penyalahgunaan ini? Ini menyangkut ketidak nyamanan masyarakat/pelanggan selama ini.


*) Artikel ini diikut sertakan dalam Lomba Karya Tulis XL Award 2010
Revolusi Belajar Via Internet Dikalangan Remaja
(Sebuah Manifestasi Sumpah Pemuda Di Era Digital)

Sumpah Pemuda adalah produk kesadaran kolektif yang melintasi imajinasi zaman. Ia tercetus 17 tahun sebelum Indonesia merdeka, dengan semangat juang membara demi cita-cita bangsa. Sumpah Pemuda dibangun atas kesadaran pemuda pendahulu kita, ketika jarak dan waktu masih dijauhkan oleh jarak-ruang, jarak- psikologis, jarak-kesadaran, dan jarak-informasi.

Kesadaran dan tekat kuat Pemuda 1928 dan niatan yang tulus selalu melahirkan kesadaran baru dari generasi ke generasi dari tahun ke tahun, bahwa nasib rakyat tidak bisa digantungkan dengan cuma mengandalkan pada ratu keadilan. Maka, setiap tanggal 28 Oktober pemuda Indonesia selalu menyongsong momentum tersebut.

Ini adalah bukti otentik bahwa pemuda Indonesia mempunyai semangat juang yang kuat, tekat bulat, keyakinan, nasionalis, dan niatan yang tulus demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia. Kita harus selalu menjaga kemetmen semangat juang ini. Tetaplah bertahan dengan jargon “Saatnya Kaum Muda Memimpin” dan “Jalan Baru, Pemimpin Baru”.

Itulah yang menandai momentum kesadaran akan perlunya kebangkitan pemuda Indonesia, sebagai saat yang tepat untuk mempertanyakan kembali kiprah tokoh-tokoh muda lintas partai, lintas agama, lintas etnik, dan lintas golongan, untuk menyatukan berbagai kepentingan faksional ke dalam suatu kehendak kolektif, yang disebut Antonio Gramsci sebagai historical bloc.

Maseki masih saja ada nada pesimistis akan generasi muda masa kini. Namun, masih cukup banyak dari mereka yang mendengarkan gema nyaring Sumpah Pemuda serta terus berdentang dan mendentangkan imajinasi di lubuk hati yang paling dalam.

Tetapi mengapa gema Sumpah Pemuda mampu terus bertahan? Pertama, karena berisi gagasan jernih, jujur, cerdas, dan lugas, yang diungkapkan secara jernih, jujur, cerdas, dan lugas pula. Pemuda 1928 telah berhasil menangkap ruh keIndonesiaan, lalu mengekspresikan itu dalam Sumpah Pemuda. Kedua, gagasan itu melintasi imajinasi zamannya.

Pemuda sekarang adalah pemuda cerdas dengan berbagai dukungan teknologi yang banyak memberi kesempatan untuk belajar. Berbagai model pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kini sudah bermunculan dengan memanfaatkan e-learning.

Hal ini telah membawa akibat pada perubahan belajar pemuda Indonesia. Seperti penelitian (17 Maret 2010) yang dilakukan UPT Perpustakaan UNDIP, bahwa internet lebih banyak sisi positifnya dan sangat membantu pencarian informasi (86,8%), sementara 13,2% responden menyatakan internet lebih banyak sisi negatif, namun membantu dalam pencarian informasi. Sebagian besar responden UPT Perpustakaan UNDIP (92,1%) menyatakan yakin dengan memanfaatkan internet dapat membantu kelancaran studi dan 7,9% saja yang merasa kurang yakin internet bermanfaat dalam membantu kelancaran studi.

Teknologi internet hadir sebagai media multifungsi pembelajaran tanpa batas. Internet adalah media pendidikan yang mampu menghadapkan krakteristik yang khas dengan revolusi gaya belajar berbeda, diantaranya; sebagai media interpersonal dan massa, bersifat interaktif, memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.

Karakteristik belajar ini memungkinkan pemuda melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media konvensional.

Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Contoh kecilnya adalah pemanfaatan mailing list, dimana pakar akan berdiskusi bersama anggota mailing list. Metode ini mampu menghilangkan jarak antara pakar dengan pelajar. Suasana yang hangat dan nonformal pada mailing list ternyata menjadi cara pembelajaran yang sangat efektif.

Semangat belajar adalah kunci utama meraih cita-cita untuk mengaplikasikannya menjadi realita. Karena Indonesia dibangun atas dasar cita-cita yang kuat dan sekarang Indonesia adalah realita. Indonesia butuh cita-cita baru dalam persaingan global era digital. Cita-cita Sumpah Pemuda telah memberi semangat, realita butuh “cita-cita baru”. Cita-cita baru yang bersemangat mempersatukan sekaligus merekahkan.

Realita itu sudah ada, bernama Indonesia, buah dari cita-cita para pemuda pendahulu. Sekarang Indonesia butuh cita-cita baru, untuk mempersatukannya, sekaligus untuk merekahkannya dalam sebuah realita baru bernama Indonesia Baru, yang lebih berkeadilan, sejahtera, aman dan damai.

Catatan Akhir
Semangat juang Pemuda 1928 ditanamkan di setiap langkah pemuda bumi pertiwi ini untuk terus berjuang. Berjuang melalui jejaring ekonomi global, sketsa politik inetrnasional, gurita informasi, dan destruksi moral generasi. Pelaku penjajahan era digital beranggotakan lintas negara dan lintas benua, bukan lagi Portugis atau Belanda.

Indonesia memerlukan sekelompok pemuda yang tampil sebagai pembebas yang tercerahkan. Tampil meng-inspiring dan meng-empowering bangsa ini untuk meretas segala kemungkinan dan ketidakmungkinan yang disuguhkan dalam cawan zaman globalisasi yang terus menggelegak dan berubah cepat.

Pemuda adalah tumpuan masa depan bangsa, untuk bisa membangun sebuah Indonesia Baru dan mensinergikan segala kekuatan bangsa untuk melawan bentuk penjajahan baru, penjajahan global dalam semua aspek: politik, ekonomi dan kebudayaan.

Akhirnya penulis berharap, jadikanlah UU Kepemudaan nanti sebagai momentum kebangkitan pemuda Indonesia yang berkaraker kebangsaan, bercirikan pemikir-pejuang sekaligus pembaharu, dan bukannya cuma puas menjadi generasi peminta-minta.

Daftar Pustaka
http://bpurwoko.staff.ugm.ac.id
http://depdiknas.go.id
http://digilib.undip.ac.id


*) artikel ini diikut sertakan dalam Lomba Penulisan Blogger "Soempah Pemoeda 2.0" oleh XL Sumpah Pemuda

Matematika, Fisika, ditambah guru galak yang tak kenal kompromi dan saat mengajar tidak pernah tersenyum sedikitpun. Adalah hal yang paling membosankan dan bahkan merasa tertekan harus tetap duduk manis di dalam kelas (dipaksa) mendengarkan ceramahnya yang bikin ngantuk.

Waktu dirasa lambat, pikiran tak karuan diselimuti rasa jengkel, dan batin tersiksa setiap mengikuti mata pelajaran. Saat itu pula betapa sekolah menjadi tidak menggairahkan. Masuk sekolah tidak sepenuh hati dan karena terpaksa.

Kadangkala, meski pelajaran disukai namun diajarkan oleh guru yang tidak menyenangkan dengan metode yang serba semraut, hasilnya pun sama. Lebih parahnya, mempengaruhi mata pelajaran yang selama ini disukai menjadi tidak suka. Nilai yang biasanya selalu tinggi di mata pelajaran tersebut kini berubah menjadi anjlok.

Kita melihat sekolah sebagai musuh. Dan PR (pekerjaan rumah) adalah derita, selesai mengahabiskan waktu yang membosankan di sekolah. Ketika di sekolah sudah bagaikan “dipenjara” dan sesampainya di rumah masih tidak bebas begitu saja dari jeratan para guru-guru di sekolah.

Betulkan sekolah tempat yang membosankan, mengekang, dan membunuh semangat belajar siswa? Jangan-jangan benih berpetualang untuk mempelajari alam, dirinya dan lingkungan sudah dibunuh oleh guru-guru killer dan orang-orang sekelilingnya. Semua itu bergantung ke pihak sekolah dan guru-guru yang terhormat, bagaimana “memperlakukan” dan cara mendidik siswanya.

Sekarang, banyak siswa-siswa yang males sekolah, sebab sekolah itu bak penjara. Penjara yang lebih kejam dibanding penjara para pencuri. Penjara sekolah masih saja memaksa siswa-siswanya untuk membeli buku yang harganya selangit. Tapi di penjara sungguhan, tidak ada paksaan untuk beli buku. He he he...

Sekolah kita ini memang perlu revolusi, inovasi dan sistem baru yang membuat siswa betah di dalam kelas dan tidak malas pergi ke sekolah. Guru-gurunya harus lebih keras belajar.

Seharusnya Guru Itu...

Faktor yang paling membuat siswa betah di sekolah adalah guru. Percuma, fasilitas lengkap, ruang kelas berAC, tapi gurunya tidak pandai dalam membawakan materi pelajaran. Siswa akan tetap merasa bosan. Siswa hanya ikut belajar, meski dengan perasaan seperti “terpenjara”.

Inovasi guru dalam mengajar tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru pintar belum tentu bisa mengajar dengan baik. Selain itu guru harus murah senyum. Datang ke sekolah tidak membawa masalah, melupakan persoalan yang ada di rumah. Jadi, faktor dominan adalah guru.

Berikut dari sekian banyak kiat-kiat agar siswa tidak bosan di sekolah dan semua itu ada pada guru, menurut yang saya alami, ada tiga;
• Metode

Kebanyakan bagi banyak guru di Indonesia ketika siswa malas sekolah, malas belajar, malas mendengarkan guru (ketika menerangkan pelajaran) selalu saja siswa yang disalahkan. Itu tidak adil. Bisa saja karena si guru tidak tahu metode mengajar yang baik.

Suksesnya guru di dalam kelas tergantung seberapa guru tersebut menguasai metode mengajar yang baik. Membuat cair suasana belajar, hingga membuat perasaan siswa tidak terkekang, betah, nyaman melewati detik demi detik bersama pelajaran meski terkadang dirasa begitu berat.

Agar siswa senang mengikuti pelajaran di kelas, guru perlu sekali-sekali membawa siswanya belajar di luar kelas. Misalnya, berdiskusi di alam bebas yang menyenangkan siswa. Metode seperti ini yang paling saya sukai. Karena selain belajar kita bisa refreshing.

Dengan metode yang ramah dan tidak menoton guru akan lebih memperhatikaan keadaan siswa. Memperhatikan bagimana siswa bisa mendapatkan pendidikan, pengetahuan, serta perhatian yang sesuai dengan karakter individu siswa masing-masing. Agar terbentuknya kepribadian yang baik dan juga brilian.

• Mengajak Mencari Jawaban Sendiri

Siswa salah dalam menjawab petanyaan guru adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar, ketika siswa kurang tepat dalam menjawab lalu guru menyalahkannya. Guru adalah panutan bagi anak didiknya. Guru adalah orang tua kedua, maka haruslah dengan sepenuh hati dalam mendidik.

Siswa dengan rata-rata masih labil secara psikologi tak seharusnya dipaksa dalam mengemban tugas yang dibebankan. Dalam mengajar, hubungan guru – siswa harus layaknya orang – tua anak, tidak serta merta menyalahkan.

Seringnya menyalahkan siswa ketika tidak tahu menjawab pertanyaan adalah beban psikologis yang membuat siswa minder dan merasa dirinya tidak ada harganya.

Guru yang tidak langsung menyalahkan siswa ketika tidak tahu menjawab, siswa dengan sendirinya akan tertantang untuk mencari jawaban yang lebih tepat (benar). Maka disinilah peran besar guru dalam merangsang IQ siswanya, yaitu menuntun siswa mencari jawaban yang benar.

Karena secara alamiah siswa (remaja) memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi dan pantang menyerah. Seperti kita lihat pada anak yang masih berumur 1,5 tahun. Ia belajar merangkak, berdiri, berjalan tanpa memiliki rasa lelah dan patah semangat. Mengapa bisa demikian? Orang tua selalu mendukung, memberi dorongan, tidak pernah menakut-nakuti.

• Tidak Mengekang (Mengajar Dengan Kasih Sayang)

Ketika siswa malas sekolah guru haruslah menjadi angin segar dalam memotivasinya, yang paling penting guru harus mengasih pengertian akan manfaat dari sekolah dengan lapang dada dan penuh kasih sayang.

Guru harus bisa menumbuhkan dan tanamkan dalam diri siswa semangat berprestasi dan kreasi. Siswa jangan dipaksakan dan memaksakan kehendak siswa. Biarkan siswa berprestasi dan berkembang sebagai mana mestinya.
Artikel ini dimuat di Forum Muda KOMPAS JATIM, Sabtu 02 Oktober 2010

Seiring dengan kemitraan Telkomsel dalam mendukung kehadiran siaran Piala Dunia FIFA 2010 yang disiarkan langsung oleh RCTI dan Global TV, Telkomsel semkin fokus menggelar layanan VAS, yang diluncurkan pertama kali sejak beberapa tahun silam bersamaan dengan Perhelatan Piala Asia di Indonesia tahun 2007, Telkomsel sebagai pendukung mitra resmi Piala Dunia 2010 juga menyelenggarakan program nonton bareng di 60 outlet Grapari dan kecamatan-kecamatan di Indonesia.

Loyalitas pelanggan Telkomsel semakin dimanjakan dengan layanan VAS Telkomsel untuk terus mengikuti berita terkini Piala Dunia. Partisipasi Telkomsel dalam event Piala Dunia FIFA 2010 ini merupakan bentuk kepedulian Telkomsel pada perkembangan dunia sepakbola. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Telkomsel untuk turut berperan serta dalam memajukan prestasi olahraga Indonesia.

Selain layanan sepak bola, operator ini juga memberikan dukungan siaran Piala Dunia yang ditayangkan oleh kelompok Media Nusantara Citra (MNC). Direktur Utama PT Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno mengatakan layanan ini merupakan peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap dunia sepak bola. “Kebanggaan bagi kami ikut menghadirkan siaran Piala Dunia ini,” ujar Sarwoto di Plaza FX, Jakarta, hari ini Kamis (okezone.com/22/04/10).

Telkomsel menggandeng MNC grup sebagai pemegang hak siar perhelatan akbar sepak bola tersebut. Telkomsel juga mensponsori seluruh rangkaian siaran kegiatan Piala Dunia yang ditayangkan langsung oleh RCTI dan Global TV. Bersama Electonic City Entertainment Telkomsel juga menggelar berbagai aktivitas spesial Piala Dunia 2010. Seperti kompetisi menghias kampung (Kampung World cup), roadshow ke sekolah bertema sepak bola, nonton bareng dan indoor soccer competition.

Bantuk sekaligus bukti kepedulian Telkomsel terhadap pecinta sepakbolah tanah air, Telkomsel telah menggandeng sejumlah produsen handset seluler dan HP pintar Nexian, Telkomsel telah meluncurkan voucher pulsa dan bundling ponsel sepakbola Nexian Bola seharga Rp 799.000 per unit. Sedangkan dengan TiPhone, produk dengan laber TiPhone Soccer seharga Rp 899.000 per unit juga telah dipasarkan.

Selain itu, Tiphone Mobile Indonesia dan Telkomsel telah meluncurkan dua paket bundling soccer untuk memberikan kemudahan akses informasi seputar sepak bola termasuk Piala Dunia 2010. “Dengan dua paket ini terdapat aplikasi soccer mobile, maka pengguna Tiphone Soccer bisa mengakses beragam informasi seputar sepak bola secara komprehensif dan murah,” kata Hengky Setiawan, Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia di Jakarta, Kamis. (ANTARA News, 21 Mei 2010).

Soccer Mobile menyajikan beragam informasi tentang Piala Dunia. Tidak cukup disitu, Soccer Mobile ini juga menyajikan berbagai informasi timnas sepak bola Indonesia dan PSSI, Liga Super, Liga Divisi Utama, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol dan lainnya. Selain ada mendapatkan info-info Piala Dunia, prediksi, opini sepak bola, futsal serta tak ketinggalan Piala Eropa, Liga Champion.

Murah + Nyambung Dimana Saja = Sumbangsih Telkomsel

Sudah 15 Tahun Telkomsel menjangkau seluruh generasi, Telkomsel melayani Indonesia hingga ke pelosok. Sumbangsih dan partisipasinya di negeri tercinta ini, tak terbilang lagi. Wajar, jika Telkomsel mempunyai pelanggan lebih dari 40 juta anak bangsa di bumi nusantara ini, dan lebih memilih produk Telkomsel (Kartu As, Simpati dan Hallo) dari produk lainnya. Alasannya, simpel saja, karena jaringannya kuat dan ada dimana-mana. Sekalipun kita berada di daerah terpencil.

Dan satu hal yang membuat patut diacungi jempol adalah, dengan produk Telkomsel, segala aktivitas kita sangat terbantu. Terutama di saat kita sedang berada di daerah terpencil. setidaknya Telkomsel lebih memberikan yang terbaik bagi kita. Tentu saja berkat ada jaringan telekomunikasi yang disediakan Telkomsel dengan keberadaan BTS-nya dimana-mana.

Semua sumbangsih dan partisipasi Telkomsel dalam event Piala Dunia FIFA 2010 merupakan bentuk kepedulian pada perkembangan dunia sepakbola, di samping menyediakan layanan Dunia Bola Telkomsel. Dalam skala yang lebih luas, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Telkomsel turut berperan serta dalam memajukan prestasi olahraga Indonesia.

Telkomsel juga aktif dalam pembinaan pemain sepakbola usia dini melalui ajang kejuaraan sepakbola antarpelajar bernama Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Kompetisi ini diharapkan menjaring bibit unggul pemain sepakbola yang akan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional pada masa mendatang.

Hal ini berbanding lurus dengan misi mulya Telkomsel dalam memajukan per-sepak bola-an Indonesia dengan layanan-layanan canggih Telkomsel bagi pencinta olahraga sepakbola khususnya pelanggan Telkomsel yang ingin selalu mendapatkan informasi terkini seputar Piala Dunia. Telkomsel telah memberikan tarif hemat kepada pelanggan. Yakni, pelanggan kartuHALO dapat menikmati bonus nelpon gratis ke seluruh pelanggan Telkomsel setelah nelpon selama 8 menit. Tersedia bonus nelpon 88 menit setelah nelpon 8 menit pada pukul 20.00 Wib-08.00 Wib.

Sementara bonus nelpon 8 menit didapat setelah nelpon 8 menit pada pukul 08.00 Wib-20.00 Wib. Bonus tersebut hanya dapat digunakan untuk sekali pemakaian dan promo tarif ini berlaku hingga 31 Agustus 2010. Selain pelanggan kartuHALO, Telkomsel juga memberikan gratis nelpon 100 menit bagi pelanggan simPATI dan paket serba Rp1.000 bagi pelanggan Kartu As.

Sementara, pelanggan Kartu As, dapat berkomunikasi murah, terutama SMS melalui program Kartu As Jagoan Serbu Bola. Promo ini menyediakan paket dengan harga serba Rp1.000, antara lain: SMS Mania 500 (gratis 500 SMS ke semua operator pukul 00.00– 12.00 waktu setempat), SMS Mania 50 (gratis 50 SMS ke semua operator pukul 00.00 – 17.00 waktu setempat).
Kemudian, Nelpon Lama (nelpon 10 menit ke sesama Telkomsel berlaku 24 jam), dan Ngomong Sering (nelpon 30 menit ke sesama Telkomsel berlaku pukul 00.00-06.00 Wib). Tersedia juga paket serba Rp 1.000 lainnya melalui akses *100# dan masih banyak lainnya.

Program Piala Dunia ini dengan konten melalui akses menu Dunia Bola Telkomsel *465#

Ariel bikin heboh lagi setelah video mesum mirip Ariel dan Luna Maya (04/6/2010), sekarang muncul video seks mirip Ariel dan Cut Tari (08/6/2010). Meski belum diakui kebenarannya. Skandal video porno yang melibatkan artis yang mirip dengan Ariel dan presenter Cut Tari kembali membuat pengguna internet heboh. Secara cepat link untuk mengunduh video tersebut menyebar ke jagad maya.

Tak seperti video ‘Ariel dengan Luna Maya’ yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih dari 6 jam untuk membuat jagad maya heboh, video kali ini jauh lebih cepat menyebar. Sejumlah situs-situs yang menghadirkan link untuk mengunduh video yang berdurasi 8 menit 45 detik tersebut, hasilnya video panas tersebut membanjiri internet.

Tak hanya forum-forum dewasa yang memberikan link video tersebut, sejumlah situs dan blog bahkan sudah memberikan informasi keberadaan adegan gambar yang melibatkan musisi dan presenter infotaiment itu. Tak ketinggalan pula, situs yang ketat dengan kebijakan pornografinya seperti YouTube dan Kaskus pun sempat kebobolan menampilkan adegan ini.

Fakta-fakta diatas membuktikan betapa bobroknya dunia internet di negara kita ini. Masyarakat Indonesia yang kini jumlahnya hampir 230 juta jiwa, yang —kenyataannya— baru melek internet hanya sekitar 30 juta orang. Ironisnya, dari jumlah yang porsinya lumayan tinggi ini jarang mempergunakan internet sebagai ajang pendidikan, tetapi internet digunakan paling banyak untuk kegiatan sex, info seks, chatting dan main game.

Hal tersebut sungguh mencengangkan bagi kaum terdidik di tanah air. Sungguh miris, masyarakat di Indonesia yang telah lama mengenal internet, namun mayoritas tidak mampu mengoptimalkan internet sebagai wahana pendidikan. Sebagai kebiasaan umumnya, setelah rampung menggunakan google sebagai robot pencarian data, peringkat selanjutnya pengguna internet masuk ke membaca informasi berita. Tapi, setelah itu mayoritas pengguna internet melakukan download pornografi, software bajakan dan games. Bahkan dari 100 top website, dari survei itu tak satupun pengguna internet Indonesia memanfaatkan untuk pendidikan.

Yang mencengangkan lagi ternyata Indonesia masuk dalam kategori jawara dalam urusan esek-esek. Menurut hasil statistik yang dikumpulkan oleh toptenreviews.com, pada 2006. Indonesia ternyata pada urutan ke-7 sebagai negara pengguna Internetnya paling kerap mengetikkan kata “sex” di search engine. Kalau kita mengaca pada pertengahan tahun 2008 saja, berdasarkan pantauan detikINET untuk data termutakhir, tampaknya Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Posisi ke-3 diraih oleh Indonesia, setelah Vietnam dan India untuk kategori negara. Kemudian untuk kategori kota, data per 30 hari berdasarkan Google Trends tersebut menegaskan bahwa Jakarta ternyata menduduki posisi ke-2, setelah Delhi di India.

Menyangkut kasus skandal video masum yang mirip Ariel “Peterpan” – Luna Maya dan Ariel – Cut Tari, beberapa pakar menyebutkan, Indonesia untuk beberapa hari terakhir ini sudah menduduki posisi ke-1 dalam mengetikkan kata “sex” di search engine. Tampaknya memang Indonesia tak bisa dipungkiri kiprahnya dalam dunia Internet global, khususnya dalam konteks pencarian informasi tentang “sex” di search engine.

Indonesia yang secara kepulauan cukup besar memang tidak pernah konsisten dalam hukum, seprti kasus penyebaran video skandal yang mirip Ariel – Lunaya akan hilang begitu saja. Meski ketentuan-ketentuan hukum sudah jelas dan ditambah dengan pengusutan yang “kayaknya” kurang bergairah untuk menuntaskan hingga selesai. Dengan pakar Hukum Universitas Indonesia Edmon Makarim menyatakan orang yang menyebarluaskan video mesum yang diduga Luna Maya dan Ariel dapat dijerat UU nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi.

Sementara orang yang memperoleh video, kemudian menyebarkannya lagi kepada orang lain, atau dengan kata lain ‘turunannya’, takkan dikenai sanksi, karena tujuannya berbeda dengan yang pertama kali menyebarkan. Berdasarkan ketentuan Pidana UU pornografi disebutkan bahwa orang yang menyebarluaskan pornogarfi akan dikenai hukuman pidana paling lama 12 tahun penjara sebagaimana dimuat pasal 29 UU nomor 44 tahun 2008.

Pasal tersebut menyatakan, “Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah)” (Suara Merdeka, 04 Juni 2010).

Menurut Edmon, UU pornografi lebih cocok digunakan untuk menjerat pelaku ketimbang UU ITE nomor 11 tahun 2008. "Tapi UU ITE juga bisa digunakan untuk menjerat pelaku penyebaran, memang kalau kesusilaan itu agak sedikit lentur jadi harus dilihat konteksnya, kontennya. Kesusilaam itu batasan normatifnya norma yang berlaku di masyarakat," kata Edmon.

Tapi semua itu hanya akan menjadi wacana basi belaka pada akhirnya, karena tanpa tindakan-tindakan yang nyata dari pihak yang mempunyai wewenang. Apalagi ditambah dengan hebohnya video skandal terbaru yang juga mirip Ariel dengan presenter Cut Tari.

Maraknya perbincangan dan peredaran video porno mirip “Ariel” membuat gerah aktivis internet. Penyelenggara jasa internet alias Internet Service Provider (ISP) diharapkan bisa ikut bersikap. Lalu apa yang bisa dilakukan dari sisi teknis? Menurut Heru Nugroho, mantan Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), para ISP bukannya tidak bisa melakukan apa-apa, ISP sebenarnya bisa memantau log akses-nya untuk memudahkan melacak pelaku penyebaran video porno tersebut.

Seluruh ISP perlu merapatkan barisan untuk melacak siapa-siapa yang upload ke internet. Bila perlu manfaatkan ‘relasi’ yang mereka punya untuk melacak jejak-jejak yang upload, seperti peng-upload skandal yang mirip artis Ariel “Peterpan” – Luna Maya dan Areil – Cut Tari. Tentunya untuk mempermudah proses pidana jika hal itu di perlukan.
Pendahuluan: Fenomena Kampus dan Dilematika Mahsiswa KUPU-KUPU
Dalam peradigma masyarakat kampus, proses kegiatan pendidikan di kampus akan dititik-beratkan kepada keaktifan mahasiswa masuk dan mengikuti mata kuliah sebagai porsi utama yang dianggap cukup signifikan dalam mobilitas perkuliahan, hal itu merupakan persepsi umum yang kiranya sudah menjadi prinsipil. Namun sejauh mata memandang adakah kira-kira aktivitas-aktivitas transformatif yang cukup memberikan nilai pada eksistensi masyarakat kampus selama ini?

Kiprah apakah yang bisa mengisi gelar “maha” yang selama ini melekat pada status siswa yang bisa dibanggakan? Tanpa maksud berlebihan dan melebih-lebihkan, identitas sebagai masyarakat kampus akan mendapatkan nilainya yang nihil jika pradigma aktif itu hanya dibatasi pada persoalan masuk-tidaknya perkuliahan.

Lebih parah lagi, jikalau prdigma sebagaimana yang telah disinggung diatas kemudian mengarah pada posisi dogmatis, hal tersebut akan menjadi negatif terutama pada dinamika dunia kampus yang selama ini juga dipandang sebagai kaum elit intelektual. Bagaimana jadinya perkembangan sosial masyarakat jika yang disebut sebagai aktor perubahan sosial itu sudah tergelincir pada teologi-pragmatik negatif? Bukankah pada dasarnya kita menghendaki peruahan, sedangkan perubahan itu sendiri merupakan suatu keniscayaan atau sunnatullah.

Menurut mbak Citra, salah satu mahasiswi senior UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta, bahwa ada beberapa tipe mahasiswa. Salah satu diantaranya adalah mahasiswa yang bertipe KURA-KURA alias “kuliah rapat-kuliah rapat”. Tipe semacam ini (mahasiswa) tidak puas dengan hanya sekedar mengikuti kegiatan kuliah saja, tetapi mencari dunia-dunia baru yang dipandang akan memberikan kemajuan signifikan terutama dengan mamasuki dunia organisasi, baik intern maupun ekstern. Sebaliknya yang mengenaskan adalah tipe mahasiswa KUPU-KUPU alias “kuliah pulang-kuliah pulang”. Tipe semacam ini cukup puas dengan hanya mengikuti perkuliahan saja. Selebihnya pulang tanpa memberi arti apa-apa.

Kalau ditanya kenapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu jawabannya pasti adalah yang selalu kita dengar, yaitu persoalan pragmatis. Kita terkungkung dalam dunia pragmatis yang setiap kali selalu menggerogoti dan menjerat kita dari berbagai arah. Lalu, siapa yang berani berbicara tentang perubahan ketika fakta yang terjadi memang demikian. Hukum-hukumnya sudah jelas dan tidak perlu mengundang interpretasi lagi yang hanya menambah dunia fiktif belaka.

Masalahnya adalah, bukan berarti persoalan pragmatis itu salah atau perlu dijauhi dan bahkan ditinggalkan sekaligus. Persoalan pragmatis harus kita akui sebagai suatu hal yang melekat pada setiap orang dan merupakan bagian dari proses perkembangan hidup secara manusiawi.

Jadi, jangan sampai ada ketergelinciran pemahaman yang nantinya dapat melahirkan konsep-konsep yang fatal. Sehingga obsesi menuju paradigma yang positif itu akan putus di tengah jalan. Dan nuansa pragmatis yang disalah-kaprahkan itu menggiring kita pada pintu gerbang materialisme. Jika hal demikian terus terjadi maka tunggulah masa-masa disentegrasi moral kita tidak akan dapat merealisasikan status khalifah fil ard pada konsep yang benar dan lurus.

Transformasi Pradigmatik Menuju Perguruan Tinggi Idaman
Kompleksitas permaslahan sebagaimana telah diuraikan diatas tidak perlu mencari kambing hitam sebagai korban dari keamburadulan keberadaan kampus masa sekarang. Hanya saja, selayaknya Perguruan Tinggi yang diidam-idamkan adalah Perguruan Tinggi Idaman yang benar-benar menajalankan undang-undang hasil keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor: 43/dikti/kep/2006. tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi pada pasal 5 tentang “Metodologi Pembelajaran Kelompok Matakuliah” dalam upaya Pengembangan Kepribadian mahasiswa sebagaimana berikut:
A. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif menyenangkan, rnenantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktifserta mernberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian dengan menempatkan Mahasiswa sebagai subyek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran dan sebagai umat, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara.
B. Pembelajaran yang diselenggarakan merupakan proses yang mendidik, yang didalamnya terjadi pembahasan kritis, analitis, induktif, deduktif, dan reflektif melalui dialog kreatif partisipatori untuk mencapai pemahaman tentang kebenaran substansi dasar kajian berkarya nyata, dan untuk menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hayat.
B. Bentuk aktivitas proses pembelajaran: kuliah tatap rnuka ceramah, dialog (diskusi) interaktif, studi kasus, penugasan mandiri, tugas baca seminar kecil, dan kegiatan kokurikuler.
D. Motivasi: menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran pengembangan kepribadian merupakan kebutuhan hidup untuk dapat eksis dalam masyarakat global.

Juga pada Pasal 11 tentang Fasilitas Pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian agar layak sisebut Perguruan Tinggi Favorit Indonesia yang meliputi:
1) Pendidikan Agama
A. Perguruan tinggi mengupayakan terwujudnya suasana lingkungan kampus yang kondusif dan tersedianya fasilitas yang mampu menumbuhkan interaksi akademik lintas agama yang religius untuk seluruh sivitas akademika.
B. Sarana fisik yang diperlukan antara lain berupa perpustakaan dengan literatur berbagai agama dalam judul dan jumlah yang memadai serta ruang serbaguna untuk kegiatan akademik secara kelompok dan/atau bersama.
C. Sarana non-fisik yang diperlukan berupa adanya peraturan yang mengantar sistem interaksi akademik yang religius.
2) Pendidikan Kewarganegaraan
A. Memenuhi syarat minimal kelengkapan instruksional yang menunjang implementasi kurikulum berbasis kompetensi
B. Sarana fisik yang dibutuhkan seperti perpustakaan dan laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan serta ruang serbaguna untuk berbagai kegiatan akademik bersama.
3) Bahasa Indonesia
a. Memenuhi persyaratan minimal kelengkapan pembelajaran dan kegiatan akademik lainnya yang menunjang implementasi kurikulum berbasis kompetensi.
B. Sarana fisik yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran bahasa dan kegiatan akademik lainnya seperti perpustakaan, laboratorium bahasa serta ruang serbaguna yang sesuai dengan kebutuhan kerja kelompok dan/atau kegiatan bersarna.

Penutup: Dari Perguruan Tinggi Terbaik Hingga Tercipta Mahasiswa Transformasional
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting, Pendidikan merupakan pondasi sebuah negara, masa depan negara dapat dilihat dari keberhasilan pendidikan dalam negara itu sendiri, jika pendidikan dalam sebuah negara itu gagal, maka hampir bisa dipastikan negara tersebut sedikit demi sedikit akan mengalami kemunduran-kemunduran dan akhirnya mengalami kehancurannya.

Maka, perlu adanya transformasi-transformasi yang cukup memberikan nilai dan arti dalam berbagai lini kehidupan. Kalau perlu, maka jawabanya adalah idealistik ataupun ideologi yang mampu melakukan dekonstruksi paradikmatik kedalam hal-hal yang dinamis. Maka persoalan pragmatis dengan berbagai alasannya seharusnya ditopang oleh idealistik. Sehingga antara keduanya akan terjadi sinergi sebagaimana tuntutan untuk dapat mensinergikan antara persoalan dunia dan akhirat dalam ajaran agama kita.

Terkait dengan hal diatas, dalam tridarma perguruan tinggi ada tiga hal yang perlu ditempuh oleh masyarakat kampus. Yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Konsep pendidikan merupakan porsi utama yang harus ditempuh untuk menata sistem dan sekaligus meningkatkan kualitas hidup. Bukan hanya itu, kebutuhan pada pendidikan merupakan hal yang krusial yang dapat menunjukkan identitas kita sebagai manusia yang dimuliakan diantara makhluk-makhluk lainnya. Konsep penelitian merupakan langkah-langkah untuk mengkaji dan membaca setiap permasalahan yang terjadi.

Selain untuk memecahkan masalah, fungsi penelitian adalah mencari informasi-informasi baru guna mencetuskan kemajuan-kemajuan baru dalam menghadapi dunia baru di masa depan yang terus berkembang. Sedangkan pengabdian merupakan implementasi dari pendidikan dan penelitian. Tanpa pengabdian semuanya tidak akan ditemukan nilainya yang berarti.

Maka sesuai paradigma berfikir di atas, mahasiswa yang ideal dan progresif—yang sebenarnya merupakan hasil product dari Perguruan Tinggi Terbaik—adalah mahasiswa yang bisa merealisasikan tridarma perguruan tinggi sebagaimana yang tersebut di atas. Semuanya akan menjadi efektif jika mahasiswa memiliki prinsip paradigmatik-idealistik. Mengenal prinsip itu adalah penting dan mengaplikasikannya lebih penting lagi. Maka dari itu aplikasi paradigma itu dapat diwujudkan jika masyarakat kampus itu dapat menyelami tiga hal status mahasiswa ideal. yaitu menjadi seorang akademis, organisatoris, dan idealis.

Mahasiswa akademis adalah mahasiswa yang benar-benar mendalami dunia pendidikan sesuai akademiknya yang dia pilih. Selalu aktif dalam perkuliahan, aktif membaca buku di perpustakaan, dan senantiasa giat mengikuti pelatihan-pelatihan seperti seminar dan semacamnya. Mahasiswa organisatoris adalah mahasiswa yang aktif dalam organisasi tertentu karena dia memiliki kesadaran bahwa dunia organisasi akan memberikan banyak wawasan dan pengalaman-pengalaman yang selama ini tidak didapatkan di dunia kampus.

Nuansa perkuliahan akan menjadi lebih dinamis manakala ditopang oleh keberanian-keberanian serta metode-metode kepemimpinan, komunikasi, dan memecahkan masalah yang didapatkan dari hasil keaktifan di organisasi. Dia senantiasa aktif berjuang memberantas ketidak adilan sosial yang terjadi. Sedangkan mahasiswa yang idealis adalah mahasiswa yang mampu membungkus pragmatisnya dengan nuansa pemikiran yang idealis.

Jadi paradigma aktif tidak hanya terbatas pada persoalan aktif kuliah, akan tetapi aktif dalam berbagai macam variabel yang pada intinya dapat menunjang potensinya sebagai mahasiswa yang sepantasnya progresif dan kritis terhadap berbagai macam masalah. Jika paradigma berfikir ini dapat diwujudkan oleh identitas masing-masing masyarakat kampus, tidak akan menunggu waktu yang lama lagi dinamika kampus akan bangkit bagaikan renaisan Eropa yang kemudian memberikan warna tersendiri bagi perjalanan kampus ke depan.

Yang terakhir, semoga saja melalui Lomba Blog UII ini aspirasi “usang” yang tertuang dalam bentuk artikel pendek ini bisa diambil manfaatnya—meski sebenarnya jauh sekali dari kata sempurna—dan syukur-syukur bisa memberi inspirasi dan bisa memanjukan pendidikan tinggi Indonesia. Amien...!


DAFTAR PUSTAKA
o Lemhanas, (2000). Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta.
o Pustaka Setia, (2000). GBHN 1999-2004, Cetakan ke-II, Bandung.
o Sekretariat Jendral MPR, (2004). Undang-Undang Dasar 1945 dengan Amandemen, Jakarta.
o Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
o Wahyono, Padmo, Prof. SH., (1980). Negara Republik Indonesia, Jakarta: Academica.
o Partanto, A Pius, (1994). Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola