AMDK Jangan Eksploitasi Sumber Mata Air

Untuk Info Selengkapnya Klik Disini
Kita sepakat bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada air. Kehadirannya menjamin kehidupan dan pertumbuhan manusia dan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Ketiadaannya menjadi pertanda bagi kematian dan kehancuran. Air adalah suatu realitas tak terbantahkan dalam keberlangsungan hidup kita.

Air mempunyai siklus perputaran sendiri yang berada di luar nalar kita. Hujan yang turun untuk semua orang, baik kaya maupun miskin, mengingatkan kita bahwa penciptaan adalah sebentuk karunia yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga. Bukan milik perorangan atau atau milik suatu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tertentu. Air dalah hadiah gratis dari Tuhan demi kebaikan bersama.

Tapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik dengan realita yang ada, air bersih seakan menjadi paten perusahaan AMDK yang seenaknya mengeksploitasi sumber mata air di pegunungan. Seperti kasus eksploitasi air bersih oleh perusahaan AMDK yang terjadi di Cianjur, catatan dari Balai Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Pertambangan dan Energi Wilayah Pelayanan I Cianjur, bahwa perusahaan-perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) itu mengambil air tanah dalam sebanyak 449.141 meter kubik per bulan atau 5,389 juta meter kubik per tahun.

Yang lebih parah lagi, ketika musim kemarau tiba perusahaan AMDK semakin menggila merampas sumber penghidupan masyarakat Cianjur, karena semakin banyaknya permintaan konsumen. Pasalnya, pengambilan air pada musim kemarau semakin meningkat sesuai permintaan pasar.

Dampak eksploitasi air bersih AMDK ternyata tidak hanya berdampak buruk pada keringnya sumber mata air. AMDK juga banyak menyumbang terhadap pengrusakan alam di pegunungan. Selain itu juga semakin menipisnya lahan mata pencaharian masyarakat kecil dengan cara alih fungsi lahan secara besar oleh AMDK.

Ini (telah) benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa Caringin, Kabupaten Sukabumi. Lima perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang terdapat di desa Caringin telah banyak “merampas” sawah milik warga desa Caringin, demi kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan keberadaan sumber air, sekaligus untuk memperluas skala usahanya di masa depan.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional akhir tahun 2010, kebutuhan pihak perusahaan-perusahaan AMDK tersebut telah mendorong terjadinya pembelian lahan sawah milik warga desa Caringin. Hal ini berpotensi mendorong terjadinya alih fungsi lahan secara besar, yaitu total seluas 5,5 ha. (Endang Indirati, 23/12/10).

Pada awalnya air yang dieksploitasi adalah air permukaan. Tapi stelah itu eksploitasi terhadap sumber mata air akan merambat (dilakukan pengeboran) ke jalur air bawah tanah dilakukan menggunakan mesin bor tekanan tinggi. Sudah pasti, kualitas dan kuantitas sumberdaya air di wilayah itu akan menurun drastis, dan pada akhirnya akan mengalami kekeringan secara totol.

Kekeringan ini akan melanda dimana saja, dimana perusahaan AMDK berada. Hal ini bisa kita buktikan berdasarkan kasus di desa Caringin, yang menurut sebuah studi tentang sumber daya air tanah yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen Energi dan Sumber daya Mineral pada tahun 1998, ternyata debit sumber air yang dieksploitasi oleh salah satu perusahaan AMDK di desa Caringin tersebut, mencapai 200 liter per detik.

Bisa kita banyangkan betapa kejamnya perusahaan AMDK tak bertanggung jawab ini terhadap keberlangsungan hidup masyarakat di suatu desa tersebut, dan keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini pada umumnya. Sementara kebutuhan air bersih, baik di Jakarta maupun di Jawa Timur, semakin hari semakin tinggi. Seperti di Jakarta, menurut Prof. Ir. Joni Hermana, MscES, Ph.D (dekan fakultas teknik sipil dan perencanaan, ITS), bahwa di ibu kota negara itu hanya mampun menyediakan air 2,2% di antara total populasi yang mencapai 8,8 juta orang. Sisanya, 97% memanfaatkan air tanah yang seharusnya tidak boleh karena bisa membuat tanah ambles.

Di Pulau Jawa, masih menurut Prof. Ir. Joni Hermana, MscES, Ph.D, sumber mata air semakin menipis. Sementara kebutuhan air bersih setiap penduduk Jawa rata-rata 4.500 meter kubik per tahun. Tapi yang terdipenuhi (karena saking banyaknya penduduk Jawa) hanya 1.700 meter kubik per orang per tahun. Dari perbandingan data tersebut, bisa dikatakan bahwa Pulau Jawa mengalami krisis air, karena supply dan demand tak seimbang. (Jawa Pos, 22/12/10).

Manusia tidak memiliki alternatif terhap air. Oleh Karena itu, penyediaan barang-barang pokok dengan tetap melestarikan hutan kita menjadi harga mati. Selain itu, masyarakat harus bersatu padu untuk tidak membiarkan begitu saja kepada kekuatan-kekuatan pasar AMDK.

Air tidak dapat diperlakukan sebagai sekadar komoditas di antara pelbagai komoditas yang lain. Dan seharusnya perusahaan AMDK menyadari hal itu, menyadari bahwa betapa penting mempertahankan dan memelihara harta milik umum seperti, sumber mata air, alam lingkungan, dan lingkungan manusia.

Karena bagi banyak orang, air tidak dapat dipikirkan sebagai sebuah “komoditas” semata yang harus dibeli dan dijual. Air itu berlandas pada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang tidak terjangkau logika pasar.

6 komentar:

  1. Yg penting komen baca mah blakangan hehe....

    BalasHapus
  2. wah iya nih . kalo gak ada air kan susah

    BalasHapus
  3. @MR.COR3.......... ITU salah, qt harus baca baru komen... biar nyambng .....................

    BalasHapus
  4. artikel yang sangat bermanfaat sekali buat di simak, ...

    BalasHapus
  5. info yang bagus, sukses selalu gan, ..

    BalasHapus
  6. yang penting ada keseimbangan

    BalasHapus